Page 165 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 165

Awalnya dulu itu suka nulis diari ya. Tapi enggak tahu kalau itu sebuah proses
               literasi. Ya nulis aja, corat-coret. Kemudian baru mulai belajar teori nulis dari buku-
               buku yang dibaca, nulis-nulis itu baru awal tahun 2011. Jadi kayak mulai tertarik
               nulis puisi, nulis cerpen. Dimulainya dari situ.


               Waktu itu saya berkegiatan di serikat buruh sebagai advokat, sebutannya paralegal
               (orang yang menerima pelatihan terkait hukum tapi belum memiliki kualifikasi penuh
               sebagai pengacara). Jadi di situ banyak punya tugas nerima curhat pekerja-pekerja
               migran. Dari situ saya stres mendengar cerita-cerita yang masuk. Kan enggak
               mungkin kalau kita diceritain kemudian diceritain lagi ke orang lain, kan enggak etis
               banget. Akhirnya saya menumpahkannya dalam sebuah tulisan, dengan menulis
               dalam bentuk puisi.


               Sebenarnya, kalau dipikir menulis itu bukan agar dibaca orang, tapi menurut saya
               pribadi menulis itu proses saya melakukan healing. Saya membantu diri saya
               melepaskan stres, tekanan yang dipikirin melalui tulisan. Menulis itu kayak buang
               sesuatu di dada, membantu diri sendiri.

               Lantas bagaimana awalnya mulai terjun ke dunia jurnalistik?


               Sebelumnya saya juga aktif menulis reportase kegiatan teman-teman buruh migran
               setiap minggu untuk suara.com.hk. Biasanya saya menulis tentang kehidupan
               pekerja migran Indonesia, apa saja kegiatan mereka. Mulai dari hobi seperti fesyen
               dan lomba-lomba, terus reportase saat ada kegiatan ulang tahun organisasi hingga
               demonstrasi

               Saya itu awalnya enggak ngerti apa itu citizen journalism atau jurnalisme warga.
               Cuma hobi saya adalah membaca artikel-artikel berita dan fiksi. Kayak haus banget.
               Intinya banyak hal yang ingin saya ketahui.

               Dari membaca berita itu membuat saya gelisah. Kenapa sih yang diberitain cuma
               ini-ini aja, gini-gini aja. Apalagi kalau memberitakan seputar kehidupan saya sebagai
               pekerja rumah tangga (PRT). Saya merasa sebagai PRT saya lebih tahu dunia saya.
               Dari kegelisahan itu saya belajar menulis berita.

               Misalnya kalau baca berita ada info soal PRT yang mengalami kecelakaan
               diberitakannya pasti karena ceroboh atau karena bunuh diri. Nah kenapa? Karena
               saya dulu basic-nya di serikat buruh, teman-teman curhat, teman-teman berkasus,
               tidak ada satu pun PRT pergi untuk mencelakakan dirinya atau sembrono biar jatuh
               dari atas.

               Kalau bukan kami sendiri migran yang peduli, ya siapa. Jadi saya mikirnya, mau
               mereka orang yang pinter jurnalisme atau penulis, mereka kan enggak tahu dunia
               PRT. Jadi mereka nulisnya dari sisi mereka. Sedangkan kami dari sisi PRT yang
               menjadi saksi dan mengalami. Sehingga saya ingin memberitakan tentang PRT,
               menyajikan berita yang peduli kami.







                                                      Page 164 of 176.
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170