Page 24 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MARET 2020
P. 24

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)." Implikasinya adalah terdapat
               kelonggaran yang luar biasa bagi pelaku pelanggaran baku mutu lingkungan hidup,
               bahkan ketentuan tersebut cenderung lebih pragmatis dan tidak memberikan efek
               jera bagi pelaku.

               Sudah seharusnya sanksi pidana merupakan yang utama diterakan (primum
               remidium) bagi pelaku pelanggar baku mutu lingkungan hidup sebagaimana asas
               keserasian dan keseimbangan dalam UU PPLH.

               Ketiga, dihapusnya hak publik untuk melakukan gugatan administratif melalui
               pengujian terhadap izin lingkungan dan/atau izin usaha melalui Pengadilan Tata
               Usaha Negara (PTUN) pada Pasal 93 UU PPLH. Sebagaimana diketahui, bunyi Pasal
               93 UU PPLH yaitu "Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap keputusan
               tata usaha negara".

               Gugatan tersebut menurut ketentuan dalam UU PPLH dapat dilakukan apabila badan
               atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada usaha dan/atau
               kegiatan yang wajib amdal tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen amdal, badan
               atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada kegiatan yang
               wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen UKLUPL, dan/atau badan
               atau pejabat tata usaha negara yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan
               yang tidak dilengkapi dengan izin lingkungan.

               Namun di dalam RUU Cipta Kerja ketentuan Pasal 93 UU PPLH dihapuskan. Hal ini
               tentunya bertentangan dengan asas partisipatif yang terdapat dalam UU PPLH, serta
               menghilangkan peran masyarakat dalam ikut serta melindungi lingkungan hidup.

               Keempat, tidak memperhatikan hierarki peraturan perundang-undangan. Pasal 170
               ayat (1), (2) dan (3) secara jelas menjelaskan bahwa "Dalam rangka percepatan
               pelaksanaan kebijakan strategis cipta kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
               ayat (1), berdasarkan Undang-Undang ini Pemerintah Pusat berwenang mengubah
               ketentuan dalam Undang-Undang ini dan/atau mengubah ketentuan dalam Undang-
               Undang yang tidak diubah dalam Undang-Undang ini." Lebih lanjut diterangkan pula
               bahwa "Perubahan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
               Peraturan Pemerintah." Implikasi dari ketentuan tersebut adalah melanggar
               ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan
               Peraturan Perundang-undangan yang secara tegas termaktub bahwa Peraturan
               Pemerintah (PP) berada di bawah undang-undang. Dengan demikian PP tidak dapat
               membatalkan ataupun mengubah ketentuan yang ada dalam undang-undang, sebab
               PP adalah peraturan pelaksana dari undang-undang itu sendiri.

               Kelima, dihilangkannya tanggung jawab kewajiban tanggung jawab terhadap
               kebakaran di areal konsesi pada Pasal 49 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999
               Tentang Kehutanan (UU Kehutanan). Awalnya Pasal 49 UU Kehutanan berbunyi
               "Pemegang hak atau izin bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran hutan di
               areal kerjanya." Tetapi dalam RUU Cipta Kerja Pasal 49 UU Kehutanan diubah
               menjadi "Pemegang hak atau Perizinan Berusaha wajib melakukan upaya



                                                       Page 23 of 121.
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29