Page 26 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MARET 2020
P. 26

Selain itu, jika dilihat dari sudut pandang psikologis, sangat memungkinkan
               pekerja/buruh dalam membuat suatu perjanjian kerja mengalami tekanan psikologis
               sehingga dalam pengambilan keputusannya tidak sesuai kehendak yang sebenarnya
               dari pekerja/buruh, terutama dalam hal meminta kebijakan pemberi kerja untuk
               dicantumkan batasan waktu istirahat panjang.

               Kedelapan, dihilangkannya kewenangan Menteri atau pejabat yang ditunjuk untuk
               memberikan izin bagi pemberi kerja yang mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA)
               sebagaimana dalam Pasal 42 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, serta dipermudahnya
               TKA karena setiap perusahaan sponsor TKA hanya membutuhkan Penggunaan
               Tenaga Kerja Asing (RPTKA) sedangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun
               2018 Tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing setidaknya diatur 2 (dua) kewajiban
               pemberi kerja dan TKA yakni memiliki RPTKA dan Visa Tinggal Terbatas (Vitas).
               Pada awalnya, bunyi Pasal 42 ayat (1) UU Ketenagakerjaan adalah "Setiap pemberi
               kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari
               Menteri atau pejabat yang ditunjuk." Namun dalam RUU Cipta Kerja, bunyi Pasal 42
               ayat (1) UU Ketenagakerjaan diubah menjadi "Setiap pemberi kerja yang
               mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki pengesahan rencana penggunaan
               tenaga kerja asing dari Pemerintah Pusat." Dampaknya adalah tidak ada lagi
               mekanisme perizinan yang kompleks bagi TKA sebagaimana ketentuan UU
               Ketenegakerjaan sebelumnya.

               Hal tersebut juga akan berimplikasi tidak digunakannya lagi Vitas dalam mekanisme
               perekrutan TKA sebagaimana ketentuan Pasal 17 ayat (1) dan (2) Perpres No. 20
               Tahun 2018 Tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing bahwa "Setiap TKA yang
               bekerja di Indonesia wajib mempunyai Vitas untuk bekerja." Dan "Vitas
               sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimohonkan oleh Pemberi Kerja TKA atau TKA
               kepada menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak
               asasi manusia atau pejabat imigrasi yang ditunjuk." Ketentuan tersebut sudah
               seyogianya akan sangat mempermudah masuknya TKA di Indonesia, sedangkan
               kompleksitas permasalahan tenaga kerja lokal masih belum terselesaikan.

               Oleh karena itu, perubahan Pasal 42 UU Ketenagakerjaan melalui RUU Cipta Kerja
               tersebut haruslah dipertimbangkan kembali oleh Pemerintah, sebab akan
               berdampak pada ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.

               Uraian di atas merupakan bagian terkecil dari banyaknya persoalan yang terdapat
               dalam RUU Cipta Kerja. Tentunya setiap RUU yang diusulkan pemegang kekuasaan
               harus bersesuaian dengan kepentingan rakyat sebagaimana asas hukum "solus
               publica suprema lex" (kepentingan rakyat berada di atas segala-galanya termasuk di
               atas undang-undang).

               Namun, muncul sebuah pertanyaan mendasar, RUU Cipta Kerja sebenarnya untuk
               siapa? Sudah barang tentu yang mampu menjawab hal tersebut adalah RUU Cipta
               Kerja itu sendiri dengan segenap substansinya yang krusial.




                                                       Page 25 of 121.
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31