Page 25 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 27 MARET 2020
P. 25

pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan di areal kerjanya." Implikasi dari
               ketentuan tersebut ialah hilangnya tanggung jawab mutlak para pelaku kebakaran
               hutan jika terjadi kebakaran, hal ini tentunya semakin melemahkan penegakan
               hukum bagi perusak hutan.

               Frasa "upaya pencegahan dan pengendalian" dalam RUU Cipta Kerja tersebut tanpa
               disebutkan pun sudah menjadi tanggung jawab moral bagi setiap pemegang hak
               atau izin, sehingga yang perlu diatur adalah pertanggungjawaban pidana pelaku
               kerusakan hutan tersebut.

               Keenam, dihilangkannya batasan konkrit terkait 1 (satu) Wilayah Izin Usaha
               Pertambangan Khusus (WIUPK) untuk tahap kegiatan Operasi Produksi
               pertambangan mineral logam dan batubara dalam Pasal 83 Undang-Undang Nomor
               4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Awalnya
               dalam UU Minerba dijelaskana bahwa "luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan
               operasi produksi pertambangan mineral logam diberikan dengan luas paling banyak
               25.000 (dua puluh lima ribu) hektare." dan "luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap
               kegiatan operasi produksi pertambangan batubara diberikan dengan luas paling
               banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare".

               Tetapi dalam RUU Cipta Kerja ketentuan Pasal 83 huruf (c) UU Minerba diubah
               menjadi "Luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan Operasi Produksi
               pertambangan mineral logam dan batu bara diberikan berdasarkan hasil evaluasi
               Pemerintah Pusat terhadap rencana kerja seluruh wilayah yang diusulkan oleh
               pelaku usaha pertambangan khusus".

               Implikasi dari ketentuan tersebut ialah terjadinya ketidakpastian hukum dalam
               memberikan batasan luas 1 (satu) wilayah operasi pertambangan mineral logam
               dan batubara. Bahkan cenderung membuka peluang pemberian batas kegiatan
               operasi yang tidak sesuai dengan ketentuan sebelumnya. Tentunya jika hal itu
               terjadi maka sangat merugikan lingkungan hidup.

               Ketujuh, tidak dicantumkannya batas minimal istirahat panjang bagi pekerja/buruh
               dalam ketentuan Pasal 79 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
               Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan).

               Awalnya bunyi dari Pasal 79 ayat (2) huruf b UU Ketenagakerjaan yaitu "Istirahat
               panjang sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh
               dan kedelapan masing-masing 1 (satu) bulan bagi pekerja/buruh yang telah bekerja
               selama 6 (enam) tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama dengan
               ketentuan pekerja/buruh tersebut tidak berhak lagi atas istirahat tahunannya dalam
               2 (dua) tahun berjalan dan selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6
               (enam) tahun." Tetapi dalam RUU Cipta Kerja, ketentuan Pasal 79 ayat (2) huruf b
               UU Ketenagakerjaan tidak lagi diatur secara jelas. Pasal 79 ayat (5) RUU Cipta Kerja
               hanya mengatur terkait cuti panjang yang diatur melalui perjanjian kerja, peraturan
               perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, sehingga kekuatan mengikatnya sangat
               lemah dibandingkan jika diatur dalam undang-undang.



                                                       Page 24 of 121.
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30