Page 469 - Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan
P. 469

* * *

              Laki-laki itu sering muncul tiba-tiba, tapi karena begitu seringnya, Si
              Cantik tak pernah lagi terkejut oleh kehadirannya. Ia telah mun cul
              bahkan sejak ia masih begitu kecil, mengajaknya bicara. Rosinah se-
              ring ada di sampingnya, tapi Rosinah tak pernah melihat laki-laki itu,
              sementara ia melihatnya. Rosinah tak pernah mendengar suara laki-
              laki itu, sementara ia mendengarnya. Ia belajar bicara dari lelaki itu.
              Seorang lelaki tua, begitu tua bahkan alisnya sudah me mutih semua,
              berkulit gelap terbakar matahari, dengan otot-otot yang telah ditempa
              kerja bertahun-tahun. Ia belajar segala hal dari lelaki tersebut. Bahkan
              ketika masa Rosinah hendak memasukkannya ke sekolah dan kepala
              sekolah tak mau me nerimanya, dan lagipula ia tak mau ke sekolah,
              lelaki itu berkata padanya:
                 ”Aku akan ajari kau menulis, meskipun aku tak pernah belajar
              menulis.”
                 Aku akan ajari kau menulis, meskipun aku tak pernah belajar menulis.
                 Melanjutkan:
                 ”Dan kuajari kau membaca, meskipun aku tak pernah belajar mem-
              baca.”
                 Dan kuajari kau membaca, meskipun aku tak pernah belajar membaca.
                 Ia tak pernah membutuhkan apa pun lagi, tampaknya, sebab ia te-
              lah merasa begitu bahagia berteman dengannya. Orang-orang tak mau
              berteman dengannya, sebab ia buruk rupa. Tapi lelaki itu ber  teman de-
              ngannya, tak peduli ia buruk rupa. Orang-orang tak mau menemuinya,
              tapi lelaki itu menemuinya. Mereka sering bermain bersama, dan
              Rosinah sering dibuat terkejut oleh kegembiraannya yang tiba-tiba
              dan tanpa sebab.
                 Si Cantik kecil begitu bahagia bisa menulis dan membaca. Ia me ne -
              mu  kan banyak buku peninggalan ibunya, dan membaca hampir se mua -
              nya dengan kegembiraan yang meluap-luap, menyalin sebagian da   lam
              usahanya mencoba menulis dan memperoleh kegembiraan yang sa  ma.
              Hanya Rosinah yang memandangnya dengan penuh ke bi ngung an.
                 ”Bagaikan malaikat mengajarimu,” tulis Rosinah pada Si Cantik.
                 ”Ya, malaikat mengajariku.”
                 Malaikat itu tidak mesti selalu datang setiap hari, tapi Si Cantik


                                           462





        Cantik.indd   462                                                  1/19/12   2:33 PM
   464   465   466   467   468   469   470   471   472   473   474