Page 37 - Cerita Cinta Enrico by Ayu Utami
P. 37

Ce r i t a   Ci n t a   E n r i c o

                 yang  jelek  malah  merusak  kulit.  Diamkan  beberapa  menit.
                 Baru  gunakan  sikat  lembut.  Demikian  juga  dengan  gesper
                 ku ningannya. Oleskan brasso dengan jari—aku suka baunya,
                 ada yang menyengat sekaligus lembut padanya. gosok setelah
                 dibiarkan beberapa menit. Bagian yang paling menyenang kan
                 adalah sentuhan terakhir yang akan membuat pantovel hi tam
                 itu mengilap-ngilap seperti turun dari surga. Kujepit se patu
                 itu dengan kedua pahaku. Selembar lap panjang kutegang  kan
                 dengan menggenggam kedua ujungnya di tangan kanan dan
                 kiri. lalu mulailah aku melicinkan sepatu dengan mena rik lap
                 itu sekuat tenaga, ke kanan ke kiri, ke kanan ke kiri, sam pai
                 berbunyi srt! srt! seperti penyemir profesional. Setelah sele-
                 sai, kuletakkan sepatu itu di rak tertinggi dengan rasa bangga.
                 Pantovel itu memantulkan sinar surgawi. Jika kau melihatnya,
                 kau pasti percaya bahwa rasanya lebih enak daripada permen
                 Belanda kattedrops.
                    aku akan merona ketika Ibu memuji pekerjaanku. Hatiku
                 berdebar-debar  manakala  ia  mengenakan  pantovel  itu  di
                 kakinya.  Kakinya  yang  kokoh  dengan  betis  penuh.  Tidak
                 seperti kakiku atau kaki ayahku yang kurus bagai ceker-ayam.
                 Slup. Sepasang pantovel itu terpasang dengan cantik sekaligus
                 gagah, menyangga seluruh bangunan tubuhnya. Ia menjelma
                 sesosok dewi.
                    Rok  lebar  menutupi  kaki  ibuku  dari  lutut  dan  mengecil
                 di  pinggang,  seperti  payung  kembang-kembang.  Ia  menge-
                 na kan atasan putih dengan sedikit renda di dada dan lengan.
                 Rambutnya  segar,  tidak  seperti  rambut  kebanyakan  perem-
                 puan  lain,  yang  cepal  oleh  minyak  dan  menyimpan  kutu.
                 Ibuku  adalah  perempuan  tercantik,  teranggun,  dan  termaju
                 di  seluruh  duniaku—yang  terbentang  seluas  tangsi  militer


                                                                          31



       Enrico_koreksi2.indd   31                                      1/24/12   3:03:52 PM
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42