Page 39 - Cerita Cinta Enrico by Ayu Utami
P. 39

Ce r i t a   Ci n t a   E n r i c o

                 pastilah bisa dimakan, sebab warnanya begitu menarik hati.
                 Dan, lihat, selain yang telah menyala, ada setumpuk lilin lagi,
                 dikemas dalam paket-paket kecil. aduh, seperti apa rasanya
                 lilin surgawi?
                    Di  luar  dugaanku,  pendeta  membagikan  lilin  itu  pada
                 me reka yang berada di bangku depan. aku menyesal bahwa
                 kami  datang  telat  dan  duduk  di  belakang.  Tapi,  pembagian
                 itu  berlangsung  ke  deretan  belakangnya,  dan  belakangnya,
                 dan be lakangnya. aku berdebar-debar, khawatir jika lilin itu
                 telah habis ketika seharusnya tiba giliran kami. aku gembira
                 luar biasa dan nyaris tidak percaya ketika akhirnya satu paket
                 lilin  dipindahkan  ke  tanganku.  aku  ingin  cepat  pulang  dan
                 mencicipi lilin merah surgawi.
                    Tapi ayah menyuruh aku dan Ibu pulang naik dokar. aku
                 tak banyak bertanya kenapa ia pergi sendiri dengan sepeda,
                 se bab satu-satunya keinginanku adalah pulang dan merasa  kan
                 lilin merah. aku agak kesal sebab Ibu ternyata memba  waku
                 berbelanja  dulu  sebelum  pulang.  Kugenggam  lilin  merahku
                 erat-erat agar jangan sampai jatuh. Kenapa Ibu berlama-lama
                 membeli ini dan itu untuk makan malam natal? aku kan mau
                 makan lilin merah...
                    aku  melompat  dari  atas  dokar  begitu  kuda  berhenti  di
                 depan kompleks militer kami. ayahku telah di rumah dengan
                 sebatang pohon cemara!
                    “lihat, Cung, kita punya pohon natal!” kata ayah sambil
                 tersenyum lebar.
                    aku memandang dengan takjub dan gembira. Itulah po   hon
                 natal  pertamaku;  pokok  cemara  yang  ditebang  ayahku  dari
                 suatu tempat. Begitu bahagianya aku sehingga tidak kecewa
                 ketika  tahu  bahwa  ternyata  lilin  merah  tidak  bisa  dimakan.


                                                                          33



       Enrico_koreksi2.indd   33                                      1/24/12   3:03:52 PM
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44