Page 44 - Cerita Cinta Enrico by Ayu Utami
P. 44

a yu Utami

               aku  berkhayal  jadi  Tarzan:  melompat  berkali-kali  ke  dalam
               air  dari  papan  loncat  yang  kubayangkan  sebagai  tebing;
               bere nang menyelamatkan Ibu dari serangan buaya. aku ma-
               nusia  bebas  dan  berjasa!  Tahu-tahu  hari  sudah  sore.  Sudah
               waktunya pulang. Renang kami agak terlalu banyak rupanya
               se hingga kami tersadar bahwa jarak pulang lumayan jauh dan
               melelahkan  untuk  ditempuh  jalan  kaki.  Tak  ada  kendaraan
               umum waktu itu, selain bendi. Tapi, kata Ibu ia sedang tidak
               boleh  naik  kereta  kuda  karena  goncangannya  terlalu  besar.
               Perut  Ibu  sedang  sakit  dan  tak  boleh  terguncang-guncang,
               katanya. aku tak begitu mengerti.
                   lalu kami berdiri di tepi jalan, yang di masa itu sangat le-
               ngang. Tak ada angkutan umum bermotor. Sedikit sekali orang
               yang memiliki mobil. Ibu memandang ke kiri dan ke kanan.
               Beberapa  mobil  lewat.  Selang  beberapa  saat,  sebuah  sedan
               menuju ke arah kami. Ibuku melambai. Mobil itu berhenti. Ibu
               berkata bahwa ia dan aku sedang mencari tumpangan pu lang
               ke asrama angkatan Darat. apakah mobil itu menuju ke sana?
               Bolehkah kami menumpang?
                   lelaki itu mempersilakan kami masuk dengan ramah.
                   “Wah,  terima  kasih  banyak,  Pak,”  kata  Ibu  sambil  men-
               jelas  kan bahwa ia sedang tidak bisa naik bendi karena dila-
               rang dokter. Samar-samar aku mendengar kata perdarah an,
               dan sebuah kata berbahasa Belanda yang kutahu kemu dian
               ada lah bloeding, yang tak terlalu aku mengerti.
                   aku bertanya, “Kenapa kalau naik mobil boleh?”
                   “Karena  di  bagian  bawah  mobil  ada  pegasnya  sehingga
               mo    bil  tidak  terlalu  bergoncang.  Bendi  tidak  punya  pegas,”
               sahut Ibu.
                   lelaki  itu  mengiyakan  dan  menambah  beberapa  pen-


           38



       Enrico_koreksi2.indd   38                                      1/24/12   3:03:52 PM
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49