Page 45 - Cerita Cinta Enrico by Ayu Utami
P. 45
Ce r i t a Ci n t a E n r i c o
jelasan. aku pun membayangkan kerangka mobil. Pegas dari
kawat baja yang sangat kuat di antara roda dan tempat du duk
kami. “Kalau ban melewati lobang, tempat duduk tidak terasa
ikut masuk ke dalamnya.”
Perjalanan bersama lelaki baik hati itu menyenang kan.
Kami turun persis di mulut gang kompleks asrama kami. Pe -
tualangan hari itu sungguh memuaskan. aku masih me nan-
dak-nandak sepanjang lorong menuju rumah. ayahku juga
telah berada di rumah.
Malamnya aku bercerita dengan semangat apa yang ter-
jadi seharian.
“apay menyesal tidak ikut pergi renang!” kataku som bong.
lalu ibu dan aku bercerita juga tentang kepulangan kami yang
menumpang mobil orang. Lifting, kata Ibu, istilahnya da lam
bahasa Belanda.
Tiba-tiba air muka ayahku berubah. Tapi ayahku tak
pernah marah. Ia hanya tampak kurang senang.
“lain kali jangan menumpang mobil orang lagi,” katanya.
“nanti jadi omongan tetangga.”
Ibuku seperti hendak membantah—sebab, bukankah
dokter melarang dia naik bendi—tapi tak jadi ia. Kami tak
punya mobil.
ayah melembut, “Kamu kan tahu sendiri kayak apa te-
tangga-tetangga kita.” Kata ayah, Ibu lain sekali dengan se mua
orang di kompleks kami. Ya, aku tahu betul itu. Semua ibu di
tangsi ini berkutu, kecuali Ibu. Setiap pagi atau sore me reka
duduk-duduk dengan rambut terurai sambil saling mencari
kutu. Mereka suka sekali bergunjing. Jika mereka berkelahi
satu sama lain, mereka memaki dengan bahasa Jawa yang
sung guh kampungan dan, ya ampun, mereka suka menyingkap
39
Enrico_koreksi2.indd 39 1/24/12 3:03:52 PM