Page 25 - BAHAN AJAR MSDM ORGANISASI PUBLIK BY JANDRY P. Z RATU KADJA, SE.,M.Si
P. 25

20 | Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik


            2.   Nilai efektivitas
                  Nilai   ini   merupakan   suatu   nilai   yang   harus   dicapai   oleh
            organisasi,  baik  dalam  organisasi  privat  maupun  dalam  organisasi
            publik.  Efektivitas  dapat  didefenisikan  sebagai  pencapaian  tujuan
            suatu  program  (Thompson,  dalam  Perry,  1993  :  361),  atau  dengan
            bahasa  yang  sering  dipakai  dalam  organisasi  privat,  yaitu  memenuhi
            keperluan pelanggan (Bernardin dan Russel, 1993 : 14).
                  Berdasarkan  uraian  diatas,  efektivitas  lebih  menekankan  pada
            pencapaian tujuan, tanpa terlalu memperhatikan aspek-aspek lainnya
            yang  ikut  mempengaruhi  pencapaian  tujuan  tersebut,  seperti  biaya,
            waktu,   dan   sebagainya.   Berbeda   dengan  efisiensi   yang   sangat
            mempertimbangkan masalah biaya.
                  Menurut  Bernardin  dan  Kane  (Dalam  Bernardin  dan  Russel,
            1993), ada enam kriteria untuk mengukur efektivitas kerja pada tingkat
            individu  atau  agregat,  yaitu  :  kuantitas  (quantity),  kualitas  (quality),
            biaya(cost),  ketepatan  waktu  (timely),  pengawasan  (supervision),  dan
            dampak  positif  (positive  impact).  Atau,  dapat  dikatakan  bahwa  para
            pegawai atau unit kerja yang paling efektif kalau memberikan kuantitas
            dan kualitas setinggi mungkin dari pekerjaan yang menggunakan biaya
            terendah  dan  dalam  cara-cara  atau  kebiasaan  yang  tepat  waktu,
            dengan  mengadakan  pengawasan  yang  minim  dan  dengan  dampak
            positif  yang  maksimum  pada  teman  kerja,  unit-unit  organisasi  dan
            pada klien/pelanggan.
            3.   Nilai keadilan social
                  Nilai  ini  penting  sekali  dalam  organisasi  publik,  karena  tujuan
            utamanya  adalah  melayani  masyarakat.  Masyarakat  yang  dilayani
            adalah  semua  masyarakat,  bukan  golongan  tertentu  saja.  Organisasi
            publik atau birokrasi sebenarnya harusnya netral, agar tidak melayani
            kelompok-kelompok  tertentu  saja.  Politisasi  birokrasi  oleh  salah  satu
            kekuatan  politik  tertentu  akan  sulit  memihak  pada  rakyat  atau
            melayani  masyarakat  umum.  Sebagai  contoh,  di  masa  lalu  semua
            birokrat  atau  pegawai  negeri  otomatis  menjadi  anggota  korpri,  dan
            korpri  merupakan  anggota  atau  bagian  dari  Golkar,  sehingga  ia  akan
            tunduk dari “titah” Golkar dan terkadang tidak memperdulikan “titah”
            rakyat (dalam negara demokrasi, rakyat pemegang kekuasaan).
                  Dengan  keadaan  seperti  di  atas,  akan  sulit  menerapkan  “merit
            system” dalam sistem kepegawaian kita, dan justru terjadi sebaliknya,
            nepotisme  semakin  merajalela.  Nepotisme  dalam  sistem  kepegawaian
            akan    sulit   menjadi   responsif   terhadap   kebutuhan-kebutuhan
            masyarakat luas.
                  Salah satu dampak negatif dari sistem ini adalah mereka sebagai
            pelayan masyarakat, tetapi berubah menjadi mereka yang dilayani oleh
            masyarakat.  Masyarakat  terkadang  harus  “membeli  haknya”  kalau
            ingin  mendapat  pelayanan  yang  sepantasnya  oleh  mereka.  Istilah
            “tempat  basah”  dan  “tempat  kering”    menjadi  sangat  relevan
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30