Page 62 - BAHAN AJAR MSDM ORGANISASI PUBLIK BY JANDRY P. Z RATU KADJA, SE.,M.Si
P. 62

Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik  | 57



                  -  Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
                         Tes ini bertujuan untuk mengidentifikasi mengenai penyakit
                     yang diderita oleh pelamar, bukan untuk memprediksi aktivitas
                     pekerja.  Tes  ini  mengamati  deviasi  perilaku  seperti  depresi,
                     hesteria, gila (paranoia), schizoferenia, dan sebagainya.
                  -   Kuder Preference Record (KPR)
                         Tes      ini      menginventarisasi   kepentingan-kepentingan
                     pekerjaan  yang  digunakan  untuk  menilai  pilihan  karier  atau
                     preferensi pelamar.
                  -   Sixteen Personality Factors Questinnaire (16PF)
                         Tes  ini  menilai  16  sifat  psikologi,  seperti  kesadaran,
                     kestabilan, kegelisahan dan tidak tergantung dan sebagainya.
                  -   Job Compatibility Questinnaire (JCQ)
                         Tes  ini  menilai  kecocokan  pekerjaan  dengan  orang  yang
                     akan dipekerjakan (seperti : orientasi pelanggan, tipe pekerjaan,
                     struktur, jam kerja, kondisi pekerjaan, otonomi).
                     (Bernardin dan Russel, 1993).
              Langkah 3 : Wawancara
                    Wawancara merupakan salah satu langkah dalam proses seleksi
              pegawai  yang  sering  digunakan.  Wawancara  memerlukan  keahlian
              tersendiri  yang  bertujuan  untuk  mendapatkan  informasi  yang  benar
              atau  akurat  dari  pelamar.  Dalam  wawancara,  pewawancara  perlu
              memperhatikan  pelamar  bahwa  pelamar  tersebut  akan  dipersiapkan
              untuk   pekerjaan  apa,   sehingga  pewawancara  dapat   mengarahkan
              pertanyaan-pertanyaan      yang    berkaitan   pada     pekerja   yang
              dipersiapkan.
                    Yang paling  berkompeten  melakukan  wawancara adalah pejabat
              yang  akan  membawahi  pelamar  tersebut.  Mengapa  harus  demikian?.
              Karena  yang  mengetahui  dengan  baik  analisis  pekerjaan  yang  akan
              dilakukan oleh pelamar adalah atasan langsung.
                    Jadi,  dalam  melakukan  tes  wawancara  dengan  pelamar  bukan
              asal pejabat yang ada di dalam organisasi atau pejabat dari organisasi
              lain yang melakukan wawancara terhadap pelamar, tanpa mengetahui
              analisis   jabatan/pekerjaan   yang   akan   dikerjakan   oleh   pelamar
              tersebut.
                    Dalam  melakukan  wawancara,  ada  tiga  hal  penting  yang  perlu
              diperhatikan,  yaitu  evaluasi  yang  subyektif,  membuat  keputusan
              berbeda antara pelamar dan pekerjaan, dan tersedianya informasi baik
              pelamar secara individu maupun secara organisasi.
              1.  Evaluasi subyektif
                    Evaluasi ini dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan
              seleksi. Misalnya, penampilan pelamar yang baik pada saat wawancara.
              Hal  ini  tidak  dapat  dijadikan  dasar  dalam  pengambilan  keputusan,
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67