Page 8 - BAHAN AJAR MSDM ORGANISASI PUBLIK BY JANDRY P. Z RATU KADJA, SE.,M.Si
P. 8

Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi Publik  | 3



              pengambil   keputusan   (pimpinan)   tidak   jauh   dari   bawahan   yang
              dipimpinnya. Keputusan dapat dijalankan oleh bawahan dengan cepat,
              karena tidak ada perantara (jabatan antara) dengan  bawahan.
                    Pengambilan keputusan dalam perspektif new public management
              lebih berorientasi pada desentralisasi dan meminimumkan biaya. Para
              administrator   dan    manajer/   pimpinan     merupakan   pengambil
              keputusan di level jabatannya masing-masing. Para administrator telah
              mendelegasikan  kewenangan  kepada  para  manajer/pimpinan  di
              bawahnya  untuk  mengambil  keputusan.  Para  manajer/pimpinan
              berkewenangan   penuh   (otonom)   dalam   menyelesaikan   berbagai
              masalah dalam lingkup tugasnya (tupoksi) dan berkewenangan penuh
              dalam  mengambil  langkah-langkah  dalam  meningkatkan  kinerjanya.
              Penentuan  langkah  dalam  pencapaian  tujuan  organisasi  harus
              didasarkan biaya yang minimal (cost-minimizing).
                    Pandangan yang lain untuk memahami perkembangan perspektif
              administrasi publik dikemukakan oleh Denhardt and Denhardt (2007),
              bahwa  secara  umum  terdapat  3  perspektif  administrasi  publik,  yaitu:
              Administrasi  Publik  Klasik  (Old  Public  Administration),  New  Public
              Management,  dan  New  Public  Service.  Dua  perspektif  administrasi
              publik yang disebutkan pertama telah diuraikan di atas.
                    Perspektif  New  Public  Service  lebih  banyak  dijelaskan  melalui
              teori  demokrasi,  Oleh  karena  itu,  pelayanan  publik  yang  demokratis,
              sebenarnya  pelayanan  publik  yang  diselenggarakan  oleh  birokrasi
              publik dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan warga negara
              (Gawthrop, 2002; Lynn, 1996).   Penyelenggara pelayanan publik perlu
              lebih  banyak  ”mendengar  -  listening”  warga  ketimbang  ”mendikte  -
              telling” dan memberikan ”pelayanan – serving” daripada ”mengarahkan
              –  steering”.  Warga  negara  dan  pejabat  publik  diharapkan  bekerja
              bersama-sama   untuk    menentukan   dan    menyelesaikan   masalah
              bersama    dalam    suatu    cara   yang    sifatnya   kooperatif     dan
              menguntungkan kedua belah pihak (Denhardt & Denhardt, 2003).
                    Sehubungan   dengan   hal   di   atas,   pelayanan  publik   yang
              demokratis     tidak     memfokuskan       diri       pada   bagaimana
              menyelenggarakan   pelayanan   publik   dengan   efisien,   tetapi   lebih
              mengarahkan      pada     bagaimana    menyelenggarakannya      dengan
              memberikan kehidupan warga yang lebih baik untuk semua (Denhardt
              &  Denhardt,  2003).  Penyelenggaraan  pelayanan  publik  yang  efisien
              merupakan  penyelenggaraan  yang  menuntut  adanya  perbandingan
              terbaik input dengan output. Dalam hal ini,  efisiensi selalu menuntut
              hasil  yang  terbaik  dengan  biaya  terentu  (minimal).  Penyelenggaraan
              pelayanan publik yang demokratis tidak dapat dituntut dengan ukuran
              yang demikian, karena ia lebih banyak berorientasi pada proses, seperti
              proses  pelibatan  warga  mulai  dari  perumusan  sampai  dengan
              penentuan  kebijakan  atau  bahkan  dalam  implementasi  sebuah
              kebijakan sehingga diharapkan membawa perubahan positif  terhadap
              kehidupan yang lebih baik.
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13