Page 191 - PDF Compressor
P. 191
waktu itu, bahkan memory card berisi ratusan foto di sana,
kukumpulkan di satu boks dan kusimpan di sudut lemariku
yang tidak pernah kubuka-buka lagi. Yes, even the Marc
Jacobs. And the black halter dress that I wore when Harris
fucked me. Padahal Stella McCartney itu juga baru sekali
pake. Mungkin seharusnya ku-garage sale-kan saja semua ben-
da-benda itu, ya. At least then I’ll make money out of the
painful memory.
Aku tahu sudah hampir satu tahun berlalu sejak kejadian
itu, yet my memory is still unforgiving on every little detail that
happened on that Singapore trip. Hal yang membuatku bingung
namun terpaksa menolak saat Ruly datang ke mejaku sekitar
sebulan yang lalu dan berkata, ”Key, gue sama Harris ke
Singapur nih September ini untuk nonton F1. Ikutan yuk!”
Walaupun begitu, ada satu token dari perjalanan itu yang 189
tidak bisa kukucilkan. Cuma sebuah buku sebenarnya, yang
kutemukan di Borders sebelum terbang balik ke Indonesia.
Love Letters of Great Men , berisi koleksi surat cinta yang
38
pernah ditulis para laki-laki besar dalam sejarah. Napoleon
Bonaparte, Mark Twain, Ludwig Van Beethoven, John Keats,
dan banyak lagi. Buatku sangat fascinating membaca bagaima-
na panglima perang sekelas Napoleon berusaha memenangkan
hati dingin istrinya, Josèphine, di tengah-tengah usaha keras-
nya memenangkan perang untuk Prancis.
Aku sebenarnya bukan penggemar laki-laki yang suka meng-
obral rayuan lewat surat—waktu nonton Dear John bareng
Dinda, aku merepet sepanjang film tentang betapa bancinya si
Channing Tatum harus termehe-mehe lewat beratus-ratus
38 Penggemar Sex and the City mungkin sudah familier dengan buku ini, yang dibaca Carrie
Bradshaw di tempat tidur saat ia menuntut John James Preston—better known as Mr.
Big—untuk lebih romantis berkata-kata.
Isi-antologi.indd 189 7/29/2011 2:15:24 PM