Page 193 - PDF Compressor
P. 193

mau  motret  sunrise  lagi,  ya?”  katanya. ”Tadi  jadinya  bangun
                jam berapa?”
                  Aku spontan berdeham membersihkan tenggorokanku yang
                agak  tercekat.  Tiba-tiba  merasa  seperti  diabsen,  dan  yang
                mengabsen ini sama sekali tidak perlu tahu bahwa tadi pagi
                aku  dibangunkan  jam  lima  subuh  oleh  Ruly  untuk  jogging
                bareng. ”Hari ini lagi malas motret, Sayang.”
                  Kemudian aku dan dia menghabiskan waktu sekian menit
                bertukar cerita tentang hari-hari dia di Jakarta dan hari-hari-
                ku di Bali ini, hal-hal kecil seperti sarapan favoritku—sereal
                Koko Crunch tanpa susu—yang sering dicela-celanya, kemeja
                biru  muda  Raoul  favoritnya  yang  sekarang  telah  bebercak
                pinkish  ketumpahan  red  wine  akibat  kenakalan  kami  di  sofa
                satu malam sepulang dari kantor, dan ledekannya karena aku
                menangis dan tertawa berulang-ulang bergantian saat nonton   191
                3 Idiots bareng sebelum aku berangkat ke Bali ini.
                  ”Film itu memang pas banget buat laki-laki manapun un-
                tuk mengetes apakah date-nya emotionally unstable or not.”
                  ”Shut up!” aku tertawa.
                  Dan dua detik kemudian, Panji mengucapkan satu kalimat
                sederhana itu.
                  ”Key...”
                  ”Ya?”
                  ”Aku  sudah  berhenti  tidur  dengan  perempuan  lain  sejak
                empat bulan yang lalu. Sejak ciuman pertama kamu, Key.”
                  Aku  cuma  bisa  duduk  terdiam  di  tempat  tidur.  Teringat
                satu  percakapanku  dengan  Dinda  pada  suatu  hari  beberapa
                minggu yang lalu, saat Dinda dengan iseng kembali mengab-
                sen sudah sejauh mana hubunganku dengan Panji, dan di saat
                dengan  lugasnya  sahabatku  itu  nyeletuk,  ”Gue  bilangin  aja
                nih, Key, this is Panji Wardhana we’re talking about. Kalau dia








        Isi-antologi.indd   191                                      7/29/2011   2:15:24 PM
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198