Page 192 - PDF Compressor
P. 192

surat, sementara Dinda menatap si ganteng itu tak berkedip
               sambil berulang-ulang mendesah, ”Romantisnyaaa.” Walaupun
               menyentuh  banget  sebenarnya  membaca  bagaimana  kaum
               Adam itu—khususnya yang sekelas Napoleon dan Beethoven—
               mendefinisikan perasaannya lewat kata-kata. My favorite quote,
               though, comes from the journalist, writer, politician Richard Steele,
               yang sempat menuliskan lebih dari empat ratus surat cinta kepa-
               da istrinya sebelum dan selama mereka menikah, satu fakta yang
               membuat makna kata-katanya berikut ini lebih dalam lagi.
                  Steele  berkata—and  my  heart  skips  a  beat  everytime  these
               words sink in: ”Methinks I could write a volume to you; but all
               the language on earth would fail in saying how much and with
               what disinterested passion I am ever yours.”
                  Panji  sama  sekali  bukan  salah  satu  laki-laki  besar  dalam
          190  sejarah—stating  the  obvious  here—dan  kata-kata  rayuannya
               selama ini kuanggap hanya bagian dari grand strategy meme-
               nangkan  permainan  di  antara  aku  dan  dia.  Dan  sebenarnya
               harus kuakui, in terms of whispering sweet nothings, he’s pretty
               up there. Jago banget. But still, he’s no Richard Steele. Tapi en-
               tah kenapa kata-kata sederhana yang dia ucapkan lewat tele-
               pon tadi masih mengacak-acak hatiku sampai sekarang. Pem-
               bicaraan  sepuluh  menit  tadi  pagi,  tepat  pukul  tujuh,  yang
               diawali dengan suara berat dan seraknya mengucapkan, ”Aku
               telat bangunin kamu, ya?” Kata-kata yang biasa banget sebe-
               narnya,  namun  sempat  membuatku  sedikit  kaget  dengan
               repertoire  gue-lo  yang  tiba-tiba  digantinya  dengan  aku-kamu
               yang lebih mesra ini.
                  ”Memangnya  tadi  niatnya  nelepon  aku  jam  berapa?”  aku
               memutuskan mengikuti permainan ini.
                  ”Jam setengah enam kayak biasanya, babe, bukannya kamu








        Isi-antologi.indd   190                                      7/29/2011   2:15:24 PM
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197