Page 197 - PDF Compressor
P. 197
I feel like I’m trapped inside some fucking episode of The Love
Boat, iya nggak sih?” Eh, anak itu di mana ya? Tebakan pertama
gue pasti sedang melancarkan jurus-jurusnya lagi ke Jack, tapi
bule itu ada di sini, nongkrong di bar dengan bule-bule Wymann
Parrish yang lain. Sementara gue dan beberapa anak Border
berusaha membuat pengalaman terdampar di tengah laut ini
sedikit lebih menyenangkan dengan main kartu.
”Come on let’s sing, everybody... When marimba rhythms start
to play, dance with me, make me sway...”
Damn, makin pusing kepala gue mendengarkan si MC
bergaya flamboyan ini mulai nyanyi-nyanyi dengan logat
Inggris-nya yang berantakan. Andai gue punya hobi fotografi
seperti Keara ya, mungkin gue bisa mencari kesenangan sen-
diri dari pemandangan ironis dramatis semi comical yang ada
di depan mata gue sekarang. Nggak mungkin kan gue main 195
bola sendiri di dek atau jogging keliling kapal ini, disangka
gila, kali.
”Mau ke mana, Rul?” tanya Indra, salah satu anak
BorderBank, saat gue bangkit dari kursi.
”Cari angin dulu,” gue meletakkan kartu di tangan gue ke
meja. ”Ganti pemain ya.”
Butuh merokok gue sebenarnya, tapi tahu sendiri dong se-
mua persediaan gue udah disita Keara. Dan tebak siapa yang
gue temukan bersandar ke railing waktu gue ke dek, menatap
langit: Keara. Memangnya gelap-gelap begini bisa motret,
gitu? Mau motret apa juga?
”Keara, lo ngapain?”
Tepat pada saat itu, Keara mencondongkan badannya ke
laut dan muntah.
Aduh, kenapa lagi ini anak? Gue cepat menangkap tubuh-
nya dari belakang. ”Key, lo nggak pa-pa?”
Isi-antologi.indd 195 7/29/2011 2:15:25 PM