Page 199 - PDF Compressor
P. 199

”Ada di kotak P3K-nya awak kapal,” tatap mata dan suara
                Ruly masih bernada khawatir. ”Mendingan kan, ya, biasanya
                kalau udah minum obat begini?”
                  ”Normally,  iya.”  Aku  memejamkan  mata,  mengurut  dahi
                dengan tangan kanan. ”Tapi gila ya, musik kampung di dalam
                itu masih kedengaran aja dari sini. Makin pusing gue, Rul. I
                feel like I’m inside a crappy episode of The Love Boat.”
                  Ruly malah tertawa.
                  ”Kok gue malah diketawain sih, Rul?” aku menoleh.
                  ”Bukan,” dia tersenyum. ”Tadi pas terjebak di acara busuk
                itu,  gue  terbayang  lo  pasti  akan  berkomentar  persis  seperti
                tadi, Key. The Love Boat shit. Pakai F word, lagi.”
                  Kamu tahu apa yang detik ini terbayang di kepalaku, Ruly?
                Kejadian empat tahun yang lalu itu. Mug The World Worst
                Hangover,  percakapan  kita  tentang  Piala  Dunia  di  Jerman,   197
                tentang Vanilla Sky, tentang musik. Kamu menunggui aku yang
                mabuk waktu itu, menunggui aku muntah seperti saat ini.
                  Malam ini seperti dejavu, Ruly, dan aku tidak suka.
                  Karena satu malam di apartemenku empat tahun yang lalu
                itu  adalah  malam  aku  pertama  kali  menyadari  kenapa  aku
                mencintai  kamu.  Karena  kebaikan  hatimu  malam  ini  hanya
                mengingatkanku  kembali  pada  satu  fakta  yang  telah  kucoba
                kubur dalam-dalam: bahwa apa yang ada di antara kita mung-
                kin  takkan  pernah  bisa  seperti  yang  ditulis  Shakespeare,
                ”Journey  ends  in  lovers  meeting.”  Our  journeys  are  always
                intertwined  but  never  the  same  anyway,  right?  Aku  mengejar
                kamu  dan  kamu  mengejar  Denise.  Ini  seperti  cat-and-mouse
                game  yang  tidak  pernah  jelas  siapa  kucing  dan  siapa  tikus-
                nya.
                  ”Masih pusing banget?” Ruly berkata lagi, masih menatap-
                ku.








        Isi-antologi.indd   197                                      7/29/2011   2:15:25 PM
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204