Page 198 - PDF Compressor
P. 198
* * *
K e a r a
Aku merasakan kedua lengan Ruly merangkulku dari bela-
kang tepat ketika aku mengeluarkan isi perutku yang telah
naik ke tenggorokan sejak semenit yang lalu, mencemari air
laut di bawah kami.
”Key, lo nggak pa-pa?”
”Gue mabuk laut, Rul,” jawabku lirih. ”Pusing banget.”
Perlahan Ruly membalik badanku menghadap dirinya.
”Udah minum obat? Antimo atau apa gitu?” tanyanya waswas,
yang cuma bisa kutanggapi dengan menggeleng. Nggak lucu
banget kalau aku muntah kedua kalinya all over Ruly.
”Duduk dulu deh ya, gue ambilin air dan obat,” Ruly mem-
196
bimbingku ke bangku. Ini memalukan sememalukan-memalu-
kannya. Aku menahan diri untuk tidak muntah lagi sampai
dia menghilang di balik pintu menuju dek. Fucking second
jackpot. Bubar jalan beneran Operation Conquer Ruly ini kalau
begini caranya. Tampang dan kelakuanku sudah nggak ada
seksi-seksinya lagi muntah-muntah nggak jelas di tengah laut
begini. Kampungan banget memang penyakit ini.
Ruly kembali muncul tiga atau empat menit kemudian—
rasanya satu abad dengan kepala berputar seperti sekarang—
dengan sebotol air mineral dan satu strip Antimo.
My head is too messed up to think up of a metaphor to
describe this. Cuma ada aku yang sedang terduduk mual ber-
sandar di bangku dek kapal ini. Cuma ada Ruly yang duduk
di sebelahku, menyodorkan pil penyelamat.
”Thanks ya, Rul,” mulutku masih terasa pahit. ”Nemu di
mana Antimo-nya?”
Isi-antologi.indd 196 7/29/2011 2:15:25 PM