Page 57 - PEMBINAAN POSTULAN
P. 57
Pembinaan Postulan
“Roh Kudus akan turun atasmu, kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau,
sebab itu anak yang akan kau lahirkan disebut kudus,
Anak Allah.” (Luk. 1:35)
Dari bacaan tsb dapat disimpulkan bahwa kehamilan Bunda Maria, bukan karena hubungan biologis
tetapi karena karya Allah semata.
Memang Gereja tidak pernah secara formal mendefinitifkan keperawanan Maria, namun diungkapkan
dalam Syahadat Para Rasul:
“... dan akan Yesus Kristus,
Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perawan Maria ....”
Pernyataan bahwa bunda Maria tetap perawan (conceptio virginalis) berkembang dalam 3 Aspek:
Keperawanan sebelum melahirkan (virginitas ante partum) berdasarkan bahwa kehamilan
Bunda Maria bukan karena hubungan biologis, melainkan oleh Karya Roh Kudus.
Tetap perawan setelah melahirkan (virginitas in partum) dikarenakan kehamilannya karena
Roh Kudus, saat melahirkan tetap dalam naungan Tuhan Allah dan Roh Kudus, tidak merusak
keutuhannya
Keperawanan Bunda Maria tetap seumur hidup (virginitas post partum) dengan keyakinan
diperkirakan bahwa Bunda Maria tidak pernah berhubungan biologis dengan siapapun
sehingga ia tetap perawan seumur hidupnya.
3) Bunda Maria terbebas dari noda dosa
Hubungan atau relasi fisik antara anak dan ibu sudah selayaknya ada, demikian pula relasi antara
Yesus Juru selamat dengan ibunda-Nya, lalu Ia mengikutkan Bunda Maria dalam relasi-Nya dengan
Tuhan Allah yang Mahakudus. Dengan demikian, Maria turut dikuduskan pula, atau dengan kata lain
kekudusan Maria hanya semata-mata karena kasih karunia Allah.
Konsili Trente (1573) mengembangkan 2 (dua) aspek tentang Bunda Maria dibenarkan oleh Paus Pius
IX pada th. 1854:
Bunda Maria dikandung tanpa dosa asal
Sebagai manusia, Bunda Maria pasti terkena dosa asal, tetapi dikarenakan ia turut dalam karya
penyelamatan Yesus Kristus, Maria mendapat pengecualian, jadi semata-mata karena rahmat.
Bunda Maria bebas dari dosa, dan kudus seumur hidup.
Kekudusannya tidak terhalang oleh perbuatan dosa, tetapi tidak berarti Bunda Maria tidak ada
emosi, gejolak psikis dan sebagainya, sebagaimana manusia-manusia yang lain, hanya saja
Bunda Maria terbebas dari godaan, sebagaimana Yesus terbebas dari godaan Iblis. (bdk. Ibr.
2:18;4:15)
4) Maria diangkat ke dalam Kemuliaan Allah
Dogma tentang Maria yang diangkat ke dalam kemuliaan surgawi diresmikan pada tahun 1950 oleh
Paus Pius XII dengan rumusan sebagai berikut:
Maria, Bunda Allah
dan perawan tetap tak bernoda,
diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan jiwa
dan raganya setelah ia menyelesaikan hidupnya di bumi.
(DS 1903)
Dogma ini selaras dengan teolog yang mengatakan akibat dosa adalah kematian.
5) Maria Bunda Gereja
Sri Paus Paulus VI memberi gelar Bunda Maria sebagai Bunda Gereja pada 6 November 1964:
“.....dinyatakan bahwa Santa Maria sebagai Bunda Gereja, artinya bunda segenap umat Kristen,
baik yang beriman maupun para pemimpin yang memanggilnya bunda tercinta.”
77