Page 55 - PEMBINAAN POSTULAN
P. 55
Pembinaan Postulan
12. STA. MARIA BUNDA PENEBUS
1. PENGANTAR
Umat beriman tidak akan habis-habisnya membahas Bunda Maria dikarenakan ia mempunyai kedudukan
khusus dalam rencana Karya Penyelamatan Tuhan bagi umat manusia, sebagaimana dituliskan oleh Kitab
Suci:
Tetapi setelah genap waktunya,
maka Allah mengutus Anak-Nya,
yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.
Ia diutus menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat,
supaya kita diterima sebagai anak,
Dan karena kamu adalah anak,
maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita
yang berseru: “Ya Abba, ya Bapa!”
(Gal. 4:4-6)
Kata genap atau kegenapan menunjukkan sesuatu yang telah direncanakan, dan jelas bukan suatu kebetulan.
Hal ini sangat disadari oleh Gereja, sehingga ditegaskan dalam Surat Ensiklik Redemtoris Mater tentang
Ibunda Sang Penebus No. 3 a.l:
Gereja secara terus menerus
menyadari bahwa Maria nampak
di kaki langit sejarah penyelamatan sebelum Kristus.
Karena kehadiran Maria dan kehadiran Yesus di dunia, kesemuanya adalah rencana Tuhan, maka benarlah
ucapan Maria:
“Sesungguhnya,
mulai dari sekarang segala keturunan
akan menyebut aku berbahagia"
(Luk. 1:49)
Apalagi setelah Elisabet saudaranya mengatakan dalam naungan Roh Kudus:
“Diberkatilah engkau,
di antara semua perempuan
dan diberkati buah rahimmu.”
(Luk. 1:42)
Pujian kepada Bunda Maria yang berawal dari Gereja Perdana, karena keikutsertaannya dalam setiap kegiatan
para murid-murid Yesus Kristus sepeninggalan-Nya. Pujian kepadanya kemudian merambah dan
mendatangkan ilham bagi para komponis untuk menggubah madah-madah pujian sebagaimana diucapkan
Maria dalam Magnificat (Luk. 1:46-48). Lagu-lagu seperti Stabat Mater (Yoh. 19:25), Alma Redemtoris
Mater, Ave Regina Caeli, Laeli Laetare, Salve Regina dll. banyak dikumandangkan dalam Ibadat Harian atau
Doa Ofisi baik oleh para rahib ataupun para Fransiskan Sekular. Jadi benarlah apa yang dikatakan oleh Maria
tentang dirinya, bahwa mulai saat itu aku disebut yang bahagia.
2. KITAB SUCI
Kitab Suci meskipun tidak secara menyeluruh meliputi kegiatan Bunda Maria, namun sedikit banyak mampu
menempatkan pada proporsi yang sebenarnya atas perannya dalam Karya Penyelamatan umat manusia.
Berawal dari Pesta Perkawinan di Kana (Yoh. 2), meski Yesus Kristus menyatakan waktunya untuk berkarya
belum tiba, namun Ia tidak mau mempermalukan ibunda-Nya di muka umum (dalam pesta). Ia berkenan
melaksanakan permintaannya.
Dari rasa hormat Yesus Kristus kepada Bunda Maria, maka Gereja dapat menyimpulkan:
75