Page 50 - PEMBINAAN POSTULAN
P. 50
Pembinaan Postulan
Dengan dibabtis kaum beriman dimasukkan ke dalam tubuh Gereja; dengan menerima mereka
ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristiani; karena sudah dilahirkan kembali menjadi
anak-anak Allah, mereka wajib mengakui di muka orang-orang beriman, yang telah mereka terima dari
Allah melalui Gereja.
(LG No. 11)
Sakramen ini dapat diberikan oleh Uskup, Imam atau Diakon, bahkan dalam keadaan darurat dapat
dilakukan oleh siapa saja (tidak terkecuali mereka yang belum dibabtis). Sakramen ini bertalian erat
dengan peristiwa paskah.
Dalam pembabtisan yang normal, maka terjadi 3 (tiga) persetujuan atau kesanggupan (ucapan = ya)
1) Ya yang pertama oleh “Allah” sendiri, yang kira-kira berbunyi sbb: Ya, engkau anak-Ku (yang
dibabtis) boleh ikut serta dalam kehidupan-Ku, Aku tidak pernah menarik kembali sabda-Ku ini.
2) Ya yang kedua oleh imam yang membabtis, yang kira-kira bermakna sbb: Ya, kami menerima engkau
sebagai saudara se-Bapa di surga, dan kami akan selalu mendampingimu untuk mengenalkan Allah
lebih lanjut lagi padamu.
3) Ya yang ketiga diucapkan yang bersangkutan, kira-kira berarti sbb: Ya, saya bersedia mengikatkan
diri dengan Allah dan seluruh anggota Gereja-Nya.
Sakramen Krisma – diresapi oleh karya Roh Kudus
Sakramen ini juga termasuk sakramen inisiasi, namun di sini ybs telah memikul tanggung jawab atas
babtisan yakni mewartakan kabar gembira dan pembela iman serta sebagai saksi Yesus.
Selanjutnya Konstitusi Dogmatis tentang Gereja menentukan:
Berkat sakramen penguatan mereka terikat pada Gereja secara lebih sempurna, dan diperkaya dengan
daya kekuatan Roh Kudus yang istimewa, dengan demikian mereka semakin diwajibkan untuk
menyebarkan dan membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati, dengan perkataan maupun perbuatan.
(LG No 11)
Selaras dengan Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja:
Sebab semangat mereka dalam mengabdi kepada Allah dan cinta kasih mereka terhadap sesama akan
mendatangkan ilham dorongan rohani yang baru bagi seluruh Gereja, yang akan tampil sebagai tanda
yang menjulang di antara bangsa-bangsa, terang dunia dan garam dunia. (AG No. 36)
Sakramen Ekaristi – persatuan yang lebih erat dengan Allah.
Sebagaimana diuraikan pada “pengantar” bahwa ekaristi berarti ucapan syukur. Ucapan syukur atas
segala rahmat Tuhan pada manusia mulai pada awal penciptaan hingga karya penebusan manusia.
Sakramen Ekaristi adalah sakramen yang paling utama, karena di sini umat manusia dipanggil untuk
bergabung dalam persekutuan dengan Yesus (bdk. 1 Kor. 1:9 & SurOr 26-27). Dalam Ekaristi kita
menerima pribadi Yesus, tubuh kita dianggap layak sebagai istana atau bait-Nya. Pada perjamuan
terakhir yang dilaksanakan Yesus bersama para murid-Nya (Mat. 26:26 dst), ditulsikan bahwa: Ia
mengambil roti dan anggur, mengucapkan syukur yang lalu dibagikan sebagai perlambang diri-Nya, dan
bersabda: “Berbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku”, karenanya Ekaristi juga sebagai pelaksanaan
perintah-Nya dan kenangan akan Dia yang telah menyelesaikan karya penyelamatan bagi umat manusia.
Jadi Ekaristi bermakna ganda, yakni:
1) Kenangan akan paskah – karya penyelamatan
2) Harapan akan prarasa liturgi surgawi – partisipasi kehidupan kekal
Sakramen Perkawinan – diutus menjadi gereja keluarga.
Sejak awal penciptaan, ikatan perkawinan sangat dikehendaki oleh Allah (Kej. 1:31), karena cinta
perkawinan antara suami dengan istrinya menjadi tanda cinta kasih antara Yesus dengan Gereja-Nya (Ef.
5:25-32). Kasih Allah mempercayakan kepada mereka untuk mendidik anak keturunannya dalam jalinan
cinta kasih. Persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra, yang diadakan oleh Tuhan dan
70