Page 54 - PEMBINAAN POSTULAN
P. 54

Pembinaan Postulan
                       Dan agar kita menyambut Dia dengan hati yang suci
                              Dan badan yang murni
                       (2 SurBerim. ayat 11-14)

            Kita bersama mengetahui bahwa Sto. Fransiskus bukanlah seorang teolog yang terpelajar atau pandai, namun
            beliau mampu menghayati makna sakramen, khususunya sakramen ekaristi dan tobat. Dengan kata-kata dan
            kalimat yang sederhana ia mampu melukiskan betapa mulia dan luhurnya kedua sakramen tsb.

            Pentobat atau metanoia mempunya arti bahwa seorang telah berubah, atau diubah oleh Roh Kudus dan akan
            menghayati sabda Allah dan menjadi pelayan-Nya. (bdk. Was. 1-3 juga Yes. 58:5-7)

            Karenanya Bapa Fransiskus senantiasa mengajak para pengikutnya masuk OFS untuk:
               Setelah  menyesali  dan  mengaku  secara  demikian,  mereka  hendaknya  menyambut  Tubuh  dan  Darah
               Tuhan  kita  Yesus  Kristus  dengan  amat  rendah  hati  dan  penuh  hormat  dengan  mengingat  apa  yang
               difirmankan Tuhan. Barang siapa makan Daging-Ku dan minum Darah-Ku, ia mempunyai hidup yang
               kekal dan lagi: Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku.
               (AngTBul. Pasal XX 5)
               “Marilah kita semua mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap
               budi, dengan penuh kekuatan dan ketabahan, dengan sepenuh daya pengertian dan segenap tenaga,
               dengan segala jerih payah dst, dst” (AngTBul. Pasal XXIII 8)
               “Sendengkanlah telinga hatimu dan patuhlah suara Putera Allah. Indahkanlah perintah-Nya dengan
               segenap hatimu dan penuhilah nasehat-Nya dengan budi sempurna. Pujilah Dia dalam pekerjaanmu.”
               (SurOr. 6-8)
               Kita juga wajib mengakui semua dosa kita kepada imam; hendaklah menyambut Tubuh dan Darah Tuhan
               kita Yesus Kristus dari dia. Siapa tidak makan daging-Nya dan tidak minum darah-Nya, tidak dapat
               masuk ke dalam kerajaan Allah.
               (2 SurBerim. 22-23)

            Dari apa yang diungkapkan di atas jelaslah kita diminta dan dituntut untuk meninggalkan apa yang biasa
            disebut sebagai manusia lama, dan segera memperbaharui hati dan jiwa agar mejadi “manusia baru”. Kita
            sebagai Awam Fransiskan tidak saja dituntut menjadi manusia baru di samping menjadi “pekerja” yang baik,
            dengan bekerja yang baik kita telah pula memuji-Nya, karena sebenarnya pekerjaan itu adalah rahmat Allah.
            Apakah pekerjaan itu menghasilkan sesuatu yang menguntungkan, atau pekerjaan itu hanya sesuatu akibat
            dari rahmat kelebihan kemampuan kita, yang senantiasa harus disyukuri.

        5.  SHARING
               Pada  saat  saudara-saudari  melayani  Misa  Kudus  apapun  tugas  saudara-saudari,  sampai  berapa  jauh
               merasa  mempunyai  hubungan  secara  pribadi  dengan  Yesus.  daripada  menjadi  salah  satu  umat  yang
               mengikuti korban-Nya?
               Dapatkah saudara-saudari  melangkah lebih dekat dari pada hnya menjadi pengikut Misa Kudus atau
               “pengamat Liturgi”?
               Mampukah saudara-saudari berdamai dengan masa lampau sedemikian rupa sehingga untuk sisa hidup
               saudara-saudari tidak terkurung di dalamnya?
               Mampukah  saudara-saudari  membayangkan  masa  depan  yang  lebih  cemerlang  lagi  setelah  saudara-
               saudari melaksanakan hal tsb pada no. 3?
               Jabatan apa yang dipercayakan Gereja pda saudara-saudari? Jabatan tsb saudara-saudari minta atau karena
               kepercayaan Gereja pada saudara-saudari?














                                                             74
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59