Page 51 - PEMBINAAN POSTULAN
P. 51
Pembinaan Postulan
dikukuhkan dengan hukum-hukumnya, dibangun oleh janji perkawinan atau persetujuan pribadi yang
tidak dapat ditarik kembali karena apa yang dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh
manusia. (Mat. 19:6b)
Mendirikan keluarga bukanlah suatu hal yang dapat diremehkan, melainkan perlu pengorbanan dari
kedua belah pihak dan seluruh kepribadiannya, karenanya Kristus mengangkat perkawinan sebagai
suatu sakramen.
Sakramen orang sakit – penyembuhan pada kehidupan
Orang sakit parah, atau orang yang hendak dioperasi, demikian pula orang yang sudah tua, sering
bergumul dengan rasa takut dan kekhawatiran. Dari awal mula Gereja menghendaki keselamatan bagi
para umatnya, karenanya memandang perlu mengulurkan tangan untuk mengurangi rasa ketakutan
umatnya dengan sakramen ini.
Sebagaimana diungkapkan dalam Doa Pembukaan Sakramen ini:
Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong saudara dengan rahmat Roh
Kudus. Semoga Ia membebaskan saudara dari segala dosa dan membangun saudara untuk mengenyam
kebahagiaan sejati.
Dengan sakramen ini, Gereja mencoba dan berupaya untuk meratakan dan meluruskan jalan bagi para
ybs ke Allah Bapa (1 Kor. 15:26; 2 Tim. 2:11) atau justru sakramen pengurapan ini mampu memberi
kesembuhan karena sugesti bagi orang sakit.
1) Mereka yang sakit merasa mendapat perlakuan yang istimewa dari Gereja dan hal ini yang memberi
dorongan untuk percaya akan obat yang diberikan dokter dan pada akhirnya dapat sembuh karena
sugesti.
2) Sementara itu bagi yang lanjut usia, mereka merasa bahwa Gereja senantiasa memperhatikan,
mendoakan dan tidak meninggalkan mereka, perhatian dan doa ini diharap mampu memberi
ketenangan bagi para lansia. Diharapkan mereka dengan tenang dan berani menghadapi malaekat
maut karena sebenarnya kematian itu adalah suatu yang indah.
Sakramen Tobat – dipersatukan kembali
Dalam sakramen babtis kita dipersatukan dan menerima hidup baru dalam Yesus Kristus yang ilahi,
sedangkan sakramen krisma kita sangat diharapkan untuk mampu berkarya menyebarkan kabar gembira.
Namun dalam peziarahan hidup acap kali kita terjerumus dalam dosa dan kedosaan baik yang kita sadari
ataupun di luar kesadaran manusia.
Sakramen tobat ini merupakan sarana untuk kembali ke jalan yang benar karena penebusan Yesus Kristus
(Rom. 3:24) kemudian iman kita berkembang terbebas dari rasa ketakutan. Pertobatan adalah rahmat
Allah yang Mahamurah.
Tobat yang sempurna timbul karena rasa cinta dan hormat kita pada Tuhan yang maha baik, sementara
pertobatan yang kurang sempurna bila dilakukan karena “takut” akan Tuhan, akan menghukum kita.
Sakramen Imamat – diutus demi pelayanan Gereja
Semua orang beriman diutus Yesus untuk mewartakan kabar gembira. Agar warta gembira ini dapat
dilayani secara baik, maka perlu dipilih orang yang mau dan dapat hidup meneladani Yesus. Memang
semua orang yang telah menerima sakramen babtis mendapat tugas untuk mewartakan Kabar Gembira,
namun secara khusus dibutuhkan “pelayan umat” yang secara sah melakukan seluruh kebutuhan
rohaninya, untuk itu diperlukan seorang imam, sebagai orang yang menerima Sakramen Imamat. Tugas
imam adalah melayani umat, bukan untuk dilayani umat.
Dalam Dekrit tentang Pelayanan dan Kehidupan Para Imam:
Maka para imam, dengan pelayanan Uskup, ditahbiskan oleh Allah, supaya mereka secara istimewa ikut
menghayati Imamat Kristus, dalam merayakan Ekaristi. Dengan Babtis para imam mengantar orang
masuk menjadi anggota umat Allah.
71