Page 25 - Badan POM Pastikan Terus Kawal Keamanan dan Mutu Vaksin COVID-19 Sebelum dan Selama Peredaran
P. 25

Judul                 : BPOM: EUA Sinovac Terbit Jika Laporan Awal Uji Klinis
                                       Perlihatkan Efficacy di Atas 50%

               Nama Media            : beritasatu.com

               Tanggal               : 9 Januari 2021
               Halaman/URL           : https://www.beritasatu.com/kesehatan/717799/bpom-eua-
                                     sinovac-terbit-jika-laporan-awal-uji-klinis-perlihatkan-efficacy-di-
                                     atas-50

               Tipe Media            : Media Online



                                                           Kepala  Badan  Pengawas  Obat  dan
                                                           Makanan  (BPOM)  Penny  Kusumastuti
                                                           Lukito     memastikan       penerbitan     izin
                                                           penggunaan vaksin                       Covid-
                                                           19 produksi Sinovac           Biotech apabila
                                                           laporan awal tiga bulan uji klinis fase tiga di
                                                           Bandung  memperlihatkan  efficacy  atau
                                                           aspek  perlindungan  vaksin  di  atas  50
                                                           persen.

               “Regulasi  dari  WHO  adalah  lebih  besar  dari  50  persen efficacy,”  kata  Penny  saat
               media briefing Pengawalan Keamanan, Khasiat, dan Mutu Vaksin Covid-19 Sebelum
               dan Sesudah di Peredaran secara daring, Jumat, 8 Januari 2021.

               BPOM,  sambung  Penny,  juga  bakal  menggunakan  laporan  uji  klinis  yang
               berlangsung  di  Turki  dan  Brazil.  Hasil efficacy dari  vaksin  tersebut  di  Brazil
               mencapai  78  persen,  sementara  di  Turki  mencapai  91,25  persen.  “Hasil  uji  klinik
               yang  berbeda  tidak  bisa  dibandingkan.  Ada  perbedaan  jumlah  subjek  penelitian,
               karakter subjek penelitian, serta kondisi lingkungan,” imbuh Penny.

               Dia  juga  menerangkan,  uji  klinis  di  Brazil  yang  mencapai  13  ribuan  relawan  dan
               Turki  dengan  7  ribuan  relawan  fokus  menyasar  tenaga  kesehatan  sebagai  subjek
               penelitiannya.  Kondisi  pandemi  di  Brazil  juga  terbilang  intensif  dibandingkan
               Indonesia. Penny berpandangan berbagai perbedaan itu sebagai landasan adanya
               perbedaan  angka  efficacy.  “Tapi  itu  tidak  menghalangi  validitas  data  yang
               didapatkan,” ujarnya.

               Penny memastikan tidak ada standar minimum terkait seberapa banyak sebenarnya
               relawan yang terinfeksi Covid-19 pasca mendapatkan vaksinasi atau placebo dalam
               uji  klinis  fase  tiga  di  Bandung.  Dia  membandingkan  itu  dengan  uji  klinik  vaksin
               produksi Pfizer serta Moderna yang memperlihatkan ada 10 persen responnya yang
               terjangkit Covid-19 dalam uji klinis.

               “Untuk penghitungan efficacy tidak ada keharusan, semua harus penuhi aspek 120
               kasus  atau  10  persen  dari  subjek  yang  terlibat  dalam  uji  klinik.  Ada  perhitungan
               scientific  yang  sudah  disepakati  seperti  dipersyaratkan  WHO  seperti  diikuti  FDA
               (otoritas  obat)  negara  lain.  Ada  target  penentuan  efficacy  yang  nanti  akan  kami
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30