Page 46 - Sampul Terkepung
P. 46

Didin dan teman-temannya terlihat ceria. Mereka
                 dengan penuh semangat menanam pohon keres terakhir

                 yang mereka punya hari itu.
                      “Din,  biar  bisa  tumbuh  dengan  tegak,  keres  ini
                 perlu diberi kayu penopang,” saran Pak Ran.

                      “Pak Ran punya kayunya?” tanya Widia.
                      “Ya,  itu  ada  bambu  di  gudang.  Nanti  Pak  Ran
                 ambilkan.”
                      Beberapa  saat  kemudian  Pak Ran  sudah  kembali
                 membawa belahan bambu tipis setinggi satu meter.

                      “Nih, tancapkan  di tepi tanaman  keres itu!”
                 perintah Pak Ran sambil menyerahkan belahan bambu
                 itu kepada Andi.

                      Andi pun  segera  menancapkan  belahan  bambu
                 tipis itu di tepi tanaman keres yang baru mereka tanam.
                      “Begini ya, Pak?” tanya Andi.
                      “Bagus itu!” puji Pak Ran sambil mengusap keringat
                 yang meleleh di pipinya.

                      “Ha…ha…ha…!”           tawa      lepas      anak-anak
                 menghambur  ke udara.  Hal itu  merupakan  pertanda
                 suka  cita  karena  mereka  telah  memulai  aksi untuk

                 menanam.













                                              34
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51