Page 65 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 65
Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid | 63
Ayat ini menunjukkan tentang kebolehan tawassul dengan
Rasulullah setelah beliau meninggal. Karena ayat ini tidak berlaku
khusus di saat Rasulullah masih hidup saja, tetapi berlaku umum,
baik ketika Rasulullah masih hidup atau setelah beliau meninggal.
Demikian penjelasan tentang kandungan ayat tersebut seperti
yang telah ditegaskan oleh Ibn al-Hajj dalam kitab al-Madkhal,
juga dinyatakan oleh para ulama lainnya.
Tawassul ‘Umar ibn al-Khaththab Dengan al-‘Abbas ibn
‘Abdul Muththalib
Sebagian kalangan anti tawassul seringkali menyebut-
nyebut peristiwa tawassulnya ‗Umar ibn al-Khaththab dengan
paman Rasulullah; yaitu al-‗Abbas, setelah melakukan shalat
Istisqa‘. Kalangan anti tawassul ini kemudian berkata: ―Ini adalah
dalil bahwa tidak boleh bertawassul dengan seorang Nabi atau
seorang wali yang sudah Nabi atau wali tersebut meninggal.
Terbukti bahwa ‗Umar tidak bertawassul dengan Rasulullah yang
sudah meninggal, melainkan beliau bertawassul dengan orang yang
masih hidup, yaitu al-‗Abbas, dengan meminta doanya‖.
(Jawab): Pernyataan bahwa sahabat ‗Umar ibn al-
Khaththab bertawassul dengan al-‗Abbas karena alasan Rasulullah
telah meninggal, adalah pendapat yang tidak memiliki dasar sama
sekali. Sahabat ‗Umar tidak pernah mengatakan seperti itu, juga
tidak sedikit-pun memberikan isyarat bahwa maksud beliau ketika
bertawassul dengan al-‗Abbas adalah karena Rasulullah telah
meninggal.
Demikian pula dengan al-‗Abbas, beliau tidak pernah
mengatakan atau mengisyaratkan bahwa ‗Umar bertawassul
kepadanya karena Rasulullah telah meninggal. Pernyataan yang