Page 61 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 61
Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid | 59
Al-Hafizh al-Lughawi Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-
Sadah al-Muttaqin Bi Syarh al-Ihya‟ „Ulumiddin, menuliskan:
ِ ِ
ِ ِ ِ
ْ ةمرْ محاوْهاْ لجاْيعضومْ لاْفيْقْ محباْدارمْ لاو
ُ
َْ َْ ْ َّ ُ
َُْ َ ُ َ
َُ َ
“Maksud dari kata “Haqq” di dua tempat (hadits tersebut di
atas) adalah kedudukan atau derajat yang tinggi dan
22
kemuliaan” .
(Faedah Hadits): Hadits ini menunjukkan akan kebolehan
tawassul dengan orang-orang saleh, baik dengan mereka yang
masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena sudah
barang tentu tawassul hanya dilakukan dengan orang-orang saleh,
tidak mungkin tawassul dilakukan dengan para pelaku dosa dan
para ahli maksiat.
Dalam hadits ini pula Rasulullah mengajarkan untuk
menggabungkan antara tawassul dengan adz-Dzawat al-Fadlilah,
seperti tawassul dengan seorang Nabi atau dengan para wali Allah
dan orang-orang saleh, menggabungkannya dengan tawassul
dengan amal saleh. Dalam hal ini Rasulullah tidak membedakan
antara keduanya, tawassul bentuk yang pertama (Bi adz-Dzawat al-
Fadlilah) hukumnya boleh, dan tawassul bentuk yang kedua (Bi al-
A‟mal ash-Shalihah) juga boleh.
Dalam hadits di atas, redaksi tawassul dengan adz-Dzawat al-
Fadlilah adalah terdapat pada kalimat “Bi Haq as-Sa‟ilin „Alaika...”.
Sementara redaksi tawassul dengan amal saleh terdapat pada
kalimat “Wa Bi Haqq Mamsyaya Hadza...”.
(Tiga): Al-Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dalam
kitab Musnad-nya dengan sanad hasan, -sebagaimana dinyatakan
22 Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 5, h. 89