Page 56 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 56
54 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid
Setelah itu ia mendatangi ‗Utsman ibn ‗Affan, dan akhirnya ia
disambut oleh Khalifah ‗Utsman, hingga seluruh permohonannya
dan urusannya terselesaikan. Dari semenjak itu, umat Islam
senantiasa mengutip hadits ini dan mengamalkan isinya hingga
sekarang ini.
Kemudian pula, para ahli hadits telah menuliskan hadits
ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hafizh at-Thabarani yang
menyatakan dalam kitab al-Mu‟jam al-Kabir dan kitab al-Mu‟jam
21
ash-Shaghir bahwa hadits ini berkualitas shahih . Lalu hadits ini
disebutkan pula oleh para ahli hadits Mutaqaddimin, seperti al-
Hafizh at-Tirmidzi, juga disebutkan pula oleh para ahli hadits
Muta‟akhirin, seperti al-Hafizh an-Nawawi, al-Hafizh Ibn al-Jazari
dan ulama lainnya.
Hadits ini adalah dalil kuat tentang kebolehan tawassul
dengan Rasulullah pada saat beliau masih hidup di belakangnya
(tidak di hadapannya). Hadits ini juga menunjukkan kebolehan
tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat, sebagaimana telah
diajarkan oleh perawi hadits tersebut di atas, yaitu oleh sahabat
‗Utsman ibn Hunaif kepada tamu Khalifah ‗Utsman ibn ‗Affan.
Karena memang hadits ini tidak hanya berlaku pada masa
Rasulullah masih hidup saja, tetapi juga berlaku setelah beliau
wafat, selamanya, dan tidak ada yang me-nasakh-nya.
Dalil-dalil tawassul dengan adz-Dzawat al-Fadlilah
Berikut ini dalil-dalil tentang disyari‘atkan tawassul dengan
adz-Dzawat al-Fadlilah secara lebih detail:
21 Para ahli hadits (Huffazh al-Haditz) telah menyatakan bahwa
hadits ini shahih, baik yang marfu‟ maupun kadar yang mauquf (peristiwa
di masa sayyidina 'Utsman), di antaranya al-Hafizh ath-Thabarani.