Page 57 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 57

Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid  | 55


                   (Satu): Hadits  tentang  orang  buta  yang  datang  kepada
            Rasulullah yang telah disebutkan di atas. Hadits ini diriwayatkan
            oleh  ath-Thabarani  dalam  al-Mu‟jam  al-Kabir  dan  al-Mu‟jam  ash-
            Shaghir  dan  beliau  menilainya  sebagai  hadits  shahih.  Juga
            diriwayatkan  oleh  at-Tirmidzi,  al-Hakim  dan  lainnya.  Hadits  ini
            juga  dinyatakan  shahih  oleh  al-Hafizh  at-Tirmidzi,  al-Hafizh  Ibn
            Khuzaimah, al-Hafizh ath-Thabarani, al-Hafizh al-Hakim, al-Hafizh
            al-Baihaqi,  al-Hafizh  al-Mundziri,  al-Hafizh  an-Nawawi,  al-Hafizh
            adz-Dzahabi,  al-Hafizh  Ibn  Hajar  al-‗Asqalani,  al-Hafizh  al-
            Haitsami,  al-Hafizh  Ibn  al-Jazari,  al-Hafizh  as-Suyuthi  dan  para
            ulama  hadits lainnya. Penjelasan lebih detail  anda dapat melihat
            dalam kitab Ithaf al-Adzkiya‟ karya al-Muhaddits as-Sayyid ‗Abdullah
            al-Ghumari.

                   (Masalah):  Jika  ada  orang  berkata,  -seperti  yang  biasa
            diungkapkan  oleh  kaum  Wahabiyyah-:  ―Makna  hadits  Nabi:
            “As‟aluka  Wa  Atawajjahu  Ilaika  Bi  Nabiyyina...”  adalah  dalam
            pengertian  “As‟aluka  Wa  Atawajjahu  Ilaika  Bidu‟ai  Nabiyyina...”.
            Hal ini dengan dalil perkataan Rasulullah sendiri terhadap orang
            buta  tersebut:  “In  Syi‟ta  Shabarta  Wa  In  Syai‟ta  Da‟autu  laka...”.
            Dengan  demikian  pemahaman  hadits  ini  adalah  bahwa  sahabat
            buta  tersebut  minta  didoakan  oleh  Rasulullah.  Karena  hal  ini
            terjadi di saat Rasulullah masih hidup, maka ini jelas dibolehkan.
            Adapun  yang  dilakukan  oleh  orang-orang  yang  bertawassul
            sekarang adalah memohon didoakan dari orang yang sudah mati,
            atau dilakukan memohon didoakan dari yang masih hidup, yang
            orang yang masih hidup tersebut tidak hadir di hadapannya, maka
            hal semacam ini tidak diperbolehkan‖.

                   (Jawab):  Dalam  rangkaian  hadits  ini  tidak  disebutkan
            bahwa Rasulullah kemudian benar-benar mendoakan orang buta
            tersebut.  Yang  disebutkan  ialah  bahwa  sahabat  buta  ini  setelah
            diberi doa oleh Rasulullah maka ia lalu pergi ke tempat wudlu, ia
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62