Page 59 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 59
Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid | 57
(Faedah Hadits): Hadits ini menunjukkan dibolehkannya
bertawassul dengan para nabi dan wali yang masih hidup tanpa
berada di hadapan mereka. Karena sahabat yang buta tersebut
tidak bertawassul di hadapan Rasulullah, melainkan ia pergi ke
tempat wudlu, lalu berwudlu, kemudian shalat dan berdoa dengan
kalimat-kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah. Setelah itu ia
kembali mendatangi Rasulullah, dan Rasulullah bersama para
sahabatnya belum meninggalkan majelis tersebut. Hal ini
sebagaimana disebutkan oleh para perawi hadits ini sendiri.
Hadits ini juga menunjukkan akan kebolehan bertawassul
dengan para nabi dan wali, baik ketika mereka masih hidup
maupun setelah mereka meninggal. Hal ini seperti yang telah
diajarkan oleh perawi hadits ini sendiri, yaitu sahabat ‗Utsman ibn
Hunaif kepada tamu Khalifah ‗Utsman ibn ‗Affan. Dengan
demikian hadits shahih ini merupakan bantahan atas perkataan
sebagian orang yang menyebutkan bahwa tawassul hanya boleh
dilakukan dengan al-Hayy al-Hadlir saja. Artinya menurut mereka
tawassul hanya boleh dilakukan dengan Nabi atau Wali yang masih
hidup saja dan itupun dilakukan di hadapannya, yaitu dengan
meminta didoakan olehnya.
(Dua): Hadits riwayat oleh Ibn Majah dalam kitab Sunan
dari sahabat Abu Sa‘id al-Khudri, bahwa ia berkata: ―Rasulullah
telah bersabda:
ِ ِِ
ِ
ِ ِ
ِِ
ْقبِْكُ لَ أسَأْهيإْمهللاْ:ْ َ لاق ف ْ ِ ْ ةلا صلاْ َ هذإْوتي بْنمْجرخْن ْ م"
َ
ََ
ّ
ُ
َْ ْ َ ََ
َ ْ
ّ َ َ ْ ْ
ِ ِ
ِِ
ِِ
ْارَ طبْلاوْارهَأْْجرخَأَْ ندْهيإفْاَ ذىْياشٌشْقبِوْكيَ لعْيلئاسلا
َ ْ َ َْ
ّ َ
َ
ْ
َ
ً َ َ ً
َ َْ ّ َ َ
َ َ
ْ ُ ْ ْ
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ْكتاضرمْ ءاغتباوْ كطخسْ ءاقتاْ تجرخْ ةعسمْ لاوْ ءيآرْ لاو َ
َّ ُ ْ ََ ً ُْ َ
َ
َ
َ
َ َ َ َ
َ َ َْ َ ْ َ
َ ً
ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
ْ نَ ذقن تْنَأْكُ لَ أسَ أف
ْرفغ َْلاْو نإْ ِ بيو نذْ ِ ورْرفغ تْنَأوْرا نلاْنمْي ِ ِ ُْ ْ َ ْ َ
ْ َ
َْ ْ
ُُ
ُ َ
ُ ْ ْ ْ َ
َ
َ ْ