Page 64 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 64
62 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid
memohonkan ampun kepada Allah untuk ummatnya. Oleh
karenanya diperbolehkan bertawassul dengannya, memohon
didoakan olehnya meskipun beliau sudah meninggal. Tawassul
dengan Rasulullah di masa hidupnya adalah perkara yang
dibolehkan, maka demikian pula tawassul dengan beliau setelah
beliau meninggal, juga dibolehkan. Karena wafat-nya beliau tidak
menjadikan beliau terlepas dari derajat kerasulannya.
Kesimpulannya, Tawassul dengan para Nabi dan para wali
Allah dengan cara-cara dan redaksi-redaksi yang telah disebutkan
di atas hukumnya boleh, baik di saat Nabi tersebut atau para wali
tersebut masih hidup atau setelah mereka meninggal, baik
dilakukan di hadapan mereka atau tidak di hadapan mereka.
Tentu hal ini semua harus disertai keyakinan bahwa tidak ada
yang bisa menghindarkan dari bahaya dan memberikan manfa‘at
secara hakiki kecuali Allah. Sedangkan para nabi atau para wali
Allah tersebut hanya sebagai sebab bagi dikabulkannya doa dan
permohonan seseorang.
Marilah kita renungkan, dalam al-Qur‘an Allah berfirman:
ِ
ْمَ وذْرفغ تساوْ للَّاْاورفغ تسافْ َ كوءاجْمه ْ سف نَأْاومَ لَ ظْْ ذإْمه نَأْوَ لو
َْ َ َ
ُْ
َْ َ
َ ْ ُ
ُ َ
ُ ْ
ُ
ُُ َ ْ َ َ
ْ ُ ْ َ
ِ
) ْ ٙٗ ْ:ءاسنلا(ْاميحرْبااو تْ للَّاْاودجوَ لُْ لوسرلا
َ
ُ
َ َ
ُ
ً َ ً َ
“Dan jika mereka mendzalimi diri-diri mereka sendiri
(berbuat maksiat), kemudian mereka mendatangi dirimu
(Wahai Muhammad), lalu mereka meminta ampun kepada
Allah, dan juga Rasulullah memintakan ampun -kepada
Allah- bagi mereka, maka mereka mendapti Allah maha
pemberi ampun (bagi dosa-dosa mereka) dan maha
Penyayang”. (QS. an-Nisa: 64)