Page 62 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 62
60 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid
oleh al-Hafizh Ibn Hajar-, bahwa sahabat al-Harits ibn Hassan al-
Bakri berkata di hadapan Rasulullah:
ٍ ِِ
ِ
ِِ
ِ
ْ ْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْْ)دحْأْهاور(ْداعْدفاوكْنوكَأْنَأْولوسروْللهباْذوعَأ
َ َ ُ ْ
ُ
َ
ُْ
َ
ْ
ُْ ََ
“Aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya dari menjadi
seperti utusan kaum „Aad (utusan yang justru
menghancurkan kaum yang mengutusnya)” (HR. Ahmad)
(Faedah Hadits): Hadits ini menunjukkan dibolehkannya
bertawassul dan beristighatsah meskipun dengan memakai kata
“A‟udzu” (al-Isti‟adzah). Dalam hadits ini sahabat al-Harits ibn
Hassan al-Bakri memohon perlindungan (Isti‟adzah) kepada Allah,
karena Allah adalah yang diminta perlindungan secara hakiki
(Musta‟adz Bih Haqiqi). Sedangkan ketika ia memohon
perlindungan kepada Rasulullah, karena Rasulullah adalah yang
diminta perlindungan dalam makna sebab (Musta‟adz Bih „Ala
Ma‟na Sabab). Makna kedua inilah yang dimaksud dengan
tawassul.
Dalam hadits ini Rasulullah sama sekali tidak mengkafirkan
sahabatnya tersebut, tidak memusyrikkannya, bahkan sama sekali
tidak mengingkarinya. Padahal kita tahu bahwa Rasulullah tidak
akan pernah mendiamkan terjadinya perkara yang munkar, sekecil
apapun. Dalam hadits ini Rasulullah tidak mengatakan kepada
sahabat tersebut: ―Engkau telah musyrik karena mengatakan:
“A‟udzu Billah Wa Rasulih...”, engkau telah kafir karena engkau
telah isti‟adzah kepadaku!‖.
Orang-orang Wahabiyyah yang menganggap tawassul
dengan Rasulullah sebagai perkara syirik, apa yang hendak mereka
katakan tentang Al-Imam Ahmad, karena beliau telah
mencantumkan hadits ini di dalam kitab Musnad-nya?! Apakah
mereka menganggap bahwa Ahmad ibn Hanbal menyetujui