Page 58 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 58

56 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid

            wudlu, lalu ia shalat dua raka‘at, dan kemudian membacakan doa
            tersebut.  Sementara    Rasulullah  meneruskan  pelajaran  beliau  di
            hadapan para sahabat lainnya. Hingga kemudian sahabat buta ini
            datang kembali  ke majelis Rasulullah dalam keadaan sudah bisa
            melihat. Ini semua sebagaimana disebutkan oleh perawi hadits ini
            sendiri, dengan redaksi berikut:
                    ِ
                                             ِ
                           ِ
                 ْسلجمْ لاْانبْ َ لاَ طْلاوْان قرف تْامْاللْو فْ، َ لاقْامْلجرلاْلعف ف
                                 َ
                                     َْ ََ
                                                                  ََ
                                                 َ
                                                     َ

                           َ
                                           َ
                                                        َ ُ ُ
                                                                َ َ
                     ْ َ
                                   َ
                                                َ
                  ُ
                             ِِ
                      ُّ
                      ْ طق َ ْ ْ رضْوبْنُ كََْ ندْو نَ أكْرصبَأْدقوْلجرلاْان يَ لعْلخدْ   تح
                                        َ
                                              َْ
                          ُ
                                                َ ُ ُ
                                         ََ ْ
                                                      َْ َ َ َ َ
                               ْ َ ْ ُ
                                                            َ
                  “Orang  buta  tersebut  melaksanakan  petunjuk  Rasulullah,
                  dan demi Allah kita belum lama berpisah dan belum lama
                  majelis  Rasulullah  berlangsung  hingga  orang  buta  tersebut
                  kembali  datang  ke  majelis  dan  telah  bisa  melihat  seakan
                  sebelumnya tidak pernah terkena kebutaan sama sekali”.
                  Dari penegasan sahabat yang ada di majelis Rasulullah ini
            diketahui bahwa maksud perkataan Rasulullah pada awal hadits di
            atas adalah bahwa beliau hendak mengajarkan doa kepada sahabat
            buta  tersebut,  bukan  mendoakannya  secara  langsung.  Maka
            makna yang dimaksud dengan sabda Rasulullah: “In Syi‟ta Da‟autu
            Laka...”  ialah  dalam  pengertian:  “In  Syi‟ta  „Allamtuka  Du‟a-an
            Tad‟u Bihi...”. Artinya: ―Jika engkau mau maka engkau aku ajarkan
            doa untuk engkau bacakan...‖.
                  Dengan  demikian  pemaknaan  kalimat  “Bi  Nabiyyina...”
            dalam  pengertian  “Bi  Du‟a  Nabiyyina...”  seperti  yang  dipahami
            oleh  kaum  Wahabiyyah  adalah  pemahaman  yang  tidak  benar,
            karena  memang  tidak  berdasar.  Maka  tawassul  dengan  Nida‟,
            sekalipun tidak di hadapan seorang Nabi atau wali adalah perkara
            yang boleh, seperti  yang dengan jelas disebutkan dalam hadits ini,
            tanpa  harus  ―ditakwil-takwil‖  dan  tanpa  perlu  ―dicari-cari‖  atau
            ―dibuat-buat‖ pemahaman tertentu.
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63