Page 54 - Mengungkap-Kerancuan-Pembagian-Tauhid-Kepada-Uluhiyyah-Rububiyyah-dan-al-Asma-Wa-ash-Shifat-Dr.-H.-Kholilurrohman-MA-277-Hal
P. 54

52 | Mengungkap Kerancuan Tiga Tauhid

            yang mengabulkan permohonan kita adalah Allah. Demikian pula
            setelah  Nabi  atau  wali  tersebut  meninggal,  lalu  kita  menjadikan
            dia sebagai wasilah dalam doa kita kepada Allah, maka Allah juga
            yang  mengabulkan  permohonan-permohonan  kita,  bukan  Nabi
            atau  wali  tersaebut.  Mereka  yang  mengatakan  bahwa  tawassul
            hanya boleh dilakukan dengan orang yang masih hidup saja, lalu
            mereka mengharamkan tawassul dengan nabi atau wali yang sudah
            meninggal, seakan mereka meyakini bahwa adanya manfa‘at dan
            mudlarat  secara  hakiki  adalah  hasil  penciptaan  Nabi  atau  wali
            yang  masih  hidup  tersebut.  Karena  itu  pendapat  orang-orang
            semacam  ini  adalah  pendapat  yang  jelas  batil.  Karena  yang
            menciptakan manfaat dan menjauhkan dari mudlarat hanya Allah
            saja. Tidak ada pencipta bagi sesuatu apapun selain Allah.

                   Sebagian  kalangan  memiliki  persepsi  sesat.  Mereka
            mengatakan bahwa tawassul adalah memohon diciptakan manfaat
            dan  dijauhkan  dari  mudlarat  kepada  seorang  Nabi  atau  seorang
            wali,  dengan  keyakinan  bahwa  yang  mendatangkan  bahaya  dan
            manfa‘at  secara  hakiki  adalah  Nabi  atau  wali  tersebut.  Persepsi
            yang  keliru  tentang  tawassul  ini  menjadikan  mereka  menghakimi
            orang  yang  bertawassul  sebagai  seorang  yang  kafir  musyrik.
            Padahal, sesungguhnya hakekat tawassul di kalangan orang-orang
            yang  mempraktekkannya  adalah  memohon  datangnya  manfa‘at
            (kebaikan)  atau  dihindarkan  dari  mara  bahaya  (keburukan)  dari
            Allah  dengan  menyebut  nama  seorang  nabi  atau  wali  untuk
            memuliakan (Ikram) keduanya.

                   Perumpamaan  orang  yang  bertawassul  tidak  berbeda
            dengan orang sakit yang pergi ke dokter, lalu ia meminum obat
            agar  diberikan  kesembuhan  oleh  Allah.  Tentu  dalam
            keyakinannya  bahwa  pencipta  kesembuhan  adalah  Allah,
            sedangkan  obat  hanyalah  sebab  bagi  kesembuhan  tersebut.  Jika
            obat  dalam  contoh  ini  adalah  Sabab  „Adi,  maka  tawassul  adalah
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59