Page 679 - Gabungan
P. 679
"Yenni! Barusan Ayah menelepon, meminta Kak Wenying untuk
mengurangi porsi penampilanmu."
"Beliau sangat perhatian," kata Yenni.
"Kalau punya menantu secantik dan semanis kamu, aku pasti juga
sangat menyayanginya!" canda Hana Budiman.
Yenni melirik Hana Budiman, yang hanya tersenyum sambil
memicingkan mata.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
Hana Budiman membuka pintu, menerima sepucuk surat dari
tukang pos, lalu kembali ke ruang tamu sambil melambaikan surat itu:
"Kak Yenni! Lihat, Kak Lijuan mengirimi kita surat!"**
Dengan gembira, Yenni mengambil surat itu dari tangan Hana,
membukanya, dan mulai membacanya sambil tersenyum.
Hana Budiman buru-buru mendekat dan ikut melihat: "Wah! Dua
minggu lagi, Kak Lijuan akan pulang untuk menjenguk keluarga!"
Yenni terus membaca dengan senyum, tapi tiba-tiba wajahnya
berubah terkejut. Ia menatap Hana Budiman: "Bagaimana Kak Lijuan
bisa tahu?"
"Tahu apa?" tanya Hana sengaja.
"Kak Hana! Kamu yang menulis surat memberitahunya?" tanya
Yenni.
Hana Budiman mengangguk sambil tersenyum.
679

