Page 676 - Gabungan
P. 676
Ketiganya naik ke lantai atas. Yenni mengeluarkan album foto. Ada
foto solo Zhou Lijuan, juga foto bersama Yenni dan Hana Budiman.
Bai Wenjie memerhatikan foto-foto itu. Postur Zhou Lijuan kurang
lebih mirip dengan Yenni. Wajahnya cantik tapi tidak norak,
pakaiannya rapi tapi tidak mencolok. Tubuhnya anggun, sikapnya
santun. Sekilas dari foto saja sudah memberi kesan yang baik.
"Bagaimana? Apa kataku salah?" tanya Yenni.
"Benar-benar gadis yang disukai semua orang, kan?" sahut Hana
Budiman.
Bai Wenjie hanya tersenyum tanpa bicara.
"Zhou Lijuan juga punya kesedihannya sendiri. Secara logika,
dengan kondisi seperti dia—keluarga kaya, disukai banyak orang,
cantik, berpendidikan tinggi—seharusnya kehidupan cintanya
bahagia..." kata Yenni.
"Itu salah Kakek Zhou!" sela Hana Budiman.
"Kakek Zhou juga punya kesulitannya sendiri," kata Yenni.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Bai Wenjie.
Yenni tersenyum: "Kakek Zhou sangat menyayangi cucunya ini.
Sejak kecil, Lijuan dibesarkan oleh kakek neneknya. Setiap ada acara
jamuan, pasangan tua itu pasti membawa cucu kesayangan mereka.
Setelah Lijuan lulus SMA, Kakek Zhou berpikir panjang sebelum
mengizinkannya kuliah di Oxford University. Kakak Lijuan, Zhou
676

