Page 42 - Edelweis Bayan_Neat
P. 42
yang jadi perbandingannya (musyabbah). Maknanya akan terasa tersirat atau tidak jelas (implisit).
Contoh:
Bunga bangsa menjadi harapan tersemainya nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Bunga bangsa yang berkedudukan sebagai pembanding disebutkan, sedangkan “pemuda” se�
bagai perbandingan atau “yang dibandingkan” tidak disebutkan. Karena tidak disebutkan salah satun�
ya (absence), maka perbandingannya tidak gamblang.
1. Pembagian Isti’arah berdasarkan Tharafain
Meskipun secara definisi isti’arah merupakan tasybih baligh yang dibuang salah satu tharafnya
(هيفرط دحأ� فذح غيلب هيبشت) serasa cukup. Pembahasan pembagian isti’arah berdasarkan musta’ar
lah dan musta’ar minhu yang dibuang salah satunya penting untuk dibahas. Perhatikan contoh-contoh
berikut sebelum masuk lebih dalam pada pembagian isti’arah sebagaimana pada judul:
2). Sambil meronda, para kalong kampung berbaju hijau berbagi tugas dengan bapak-bapak
ronda. Sebagian pergi ke sawah, sebagian lagi ngopi, sambil berbagi beban rumah tangga, dan
mempersiapkan nasi liwet. Yang pergi ke sawah bertugas untuk ngurek, istilah Sunda bagi me�
mancing belut di lubangnya.
3). Bulan mengintip para santri yang tengah tertidur lelap melalui celah-celah pepohonan. Ia
menyapa santri dewasa yang sedang patrol malam.
4). Khabib sering mengunci lawannya dengan kuncian dagestan. Nama kuncian tersebut ber�
asal dari statusnya sebagai atlet MMA asal Dagestan. Kuncian dipilih sebagai teknik mengalah�
kan lawan dikarenakan dalam Islam dilarang mencederai musuh secara habis-habisan.
5). Sepulang dari masjid, Aroma masakan ibu memanggilku pada ingatan akan rumah. Ma�
sakan semewah hotel bintang lima maupun restoran oleh chef ternama tidak ada artinya. Croffle
dan pizza tak ada artinya dibanding comro dan misro buatan ibu.
Dari empat contoh di atas terdapat kata-kata yang digaris bawahi untuk menunjukkan bahwa
pada kata-kata tersebut terjadi isti’arah. Lalu apa jenis serta alasan isti’arah pada empat contoh di atas
terjadi? Mari perhatikan pembahasan berikut:
a. Isti’arah Musharrahah (Metafora Implisit)
هب هبشل� وأ� هنم راعَتسمل� ظفللاب اهيف حَرص ام
“Isti’arah yang ditegaskan lafadz musta’ar minhu-nya atau musyabbah bih-nya”
Alasan penamaan isti’arah sebagai musharrahah, dikarenakan yang menjadi inti dalam isti’ar�
ah adalah musta’ar minhu-nya. Musta’ar minhu berperan sebagai kata yang dipinjam (راعَتسم) untuk
menggantikan posisi musta’ar lah alias musyabbah yang telah dibuang. Sehingga seolah-olah musta’ar
minhu ialah musta’ar lah itu sendiri. Saking jelas terjadinya isti’arah melalui musta’ar minhu yang dise�
butkan, maka disebutlah isti’arah ini dengan sebutan musharrahah (dijelaskan).
40 Buku Ajar Edelweis Bayan