Page 43 - Edelweis Bayan_Neat
P. 43
Contoh perkataan penyair:
دربلاب بانعَل� ىلع تْضعو �درو # تْقُسو سجرن نم �ؤلؤل ترطَمأاف
“Maka perempuan itu menghujankan mutiara dari bunga bawang merah dan menyiram bunga
mawar serta menggigit serangkai anggur dengan salju”
Maksudnya; ia mencucurkan air mata yang bening mengkilap seperti mutiara, dari mata yang
indah seperti bunga bawang merah (berwarna biru). Dengan air mata yang berjatuhan itu ia membasa�
hi pipinya yang halus dan merah bagaikan bunga mawar sambil menggigit jari yang kecil-kecil (lentik)
bagaikan anggur dengan gigi yang putih bagaikan salju.
Lafadz �ؤلؤل (mutiara), سجرن (bunga bawang
merah), �درو (mawar), بانعَل� (anggur), dan دربل� (es)
dipinjam untuk mengungkapkan makna kata عومدل�
(air mata), نويعَل� (mata), دودخل� (pipi), لمانلا� (jari),
أ
dan kata نانسلا� (gigi) yang disebutkan dalam contoh
أ
di atas semuanya adalah musyabbah bih / musta’ar min�
hu. Dengan demikian makan isti’arah di atas termasuk
Isti’arah Musharrahah.
Cara mentaqrirnya:
ل�دل� ظفلل� ريعَتس� مث ناعَملل� عماجب ؤلؤللاب عمدل� هبش
ليبس ىلع ،عمدل� وهو هبشملل ؤلؤلل� وهو هب هبشل� ىلع
ترطَمأاف ةنيرقُل�و ،ةحرصمل� ةراعَتسلا�
(Gambar 2.2 Gambaran Wanita Bermata Biru)
“Air mata diserupakan dengan mutiara karena sama-sama berkilau. Kemudian dipinjamlah
lafadz yang menunjukkan pada musyabbah bih yakni “mutiara” untuk musyabbah yakni “air mata”
dengan cara isti’arah musharrahah. Adapun yang menjadi qarinah ialah kata ترطَمأاف.
Terkait سجرن atau Bunga Daffodil
Penulis dalam bagian ini secara khusus ingin menggam�
barkan begitu eratnya kebudayaan, pengetahuan, dan pengalaman
seorang “pesastra” (sebuah istilah untuk menghindari istilah sas�
trawan yang terlalu jauh untuk penulis pribadi). Bunga narcissus,
سجرن, daffodil, sering digunakan dalam karya sastra dari berbagai
belahan dunia termasuk Arab yang mana bunga tersebut kerap kali
(Gambar 2.3 Bunga Dafodil) digunakan dalam Syai’r-syai’r.
Karena itu, sebagai upaya pendekatan penggambaran bagaimana indahnya bunga ini dengan
seorang wanita, penulis ingin menggambarkannya dengan perbandingan “subyektif” berikut:
Buku Ajar Edelweis Bayan 41