Page 438 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 438

SOSIAL DAN   BAB XX
                                                                       KEBUDAYAAN




                                                (7)


                             KEBIJAKAN PENDIDIKAN KITA
                             TERJEBAK PADA KEJAR RATING
                                       DAN PERINGKAT





                           ENDIDIKAN  nasional seharusnya mendorong bangsa kita
                           mandiri dan berdaulat. Sehingga, jika hari ini kita mendapati
                           bangsa  Indonesia  masih  terkooptasi  kepada  bangsa  asing,
                           baik secara politik, ekonomi, maupun kebudayaan, berarti ada
               Psesuatu yang harus dikoreksi dari penyelenggaraan pendidikan
                 nasional kita.
                      Setiap kali kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, yang kita
                 ingat  biasanya  hanyalah  tanggal  lahir  Ki  Hadjar  Dewantara  saja.  Kita
                 melupakan ajaran-ajaran penting perjuangannya, terutama agar pendidikan
                 nasional kita berangkat dari akar kebudayaan serta menjunjung tinggi
                 nilai-nilai kemerdekaan dan kemanusiaan. Ki Hadjar mendesain Perguruan
                 Tamansiswa  sebagai  antitesa  terhadap  sistem  pendidikan  kolonial  yang
                 hanya mengutamakan intelektualitas, individualitas, dan materialitas. Itu
                 merupakan proto sistem pendidikan nasional kita.

                      Dulu kita sering mendengar istilah membangun manusia Indonesia
                 seutuhnya. Meskipun bersifat jargonik, istilah itu sebenarnya tepat. Untuk
                 membangun peradaban, yang pertama kali harus dibangun memang
                 adalah manusianya. David Korten menyebutnya sebagai people centered
                 development.  Untuk  membangun  manusia  tersebut,  ada  tiga  elemen
                 penting yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu  pendidikan,
                 kebudayaan, dan  kepemimpinan. Ketiganya bersifat saling kait mengait,
                 jadi tidak bisa dipisah-pisahkan.
                      Sayangnya, sesudah Reformasi, terutama sesudah terbitnya UU No.
                 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, desain pendidikan nasional
                 kita terjebak pada mengejar peringkat belaka. Ini berlaku baik untuk peserta
                 didik, pendidik, maupun institusi pendidikan. Siswa sibuk mengejar nilai
                 ujian nasional yang standarnya terus naik. Guru sibuk mengurusi laporan



                                                                  CATATAN-CATATAN KRITIS  463
                                                                         DARI SENAYAN
   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442   443