Page 442 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 442
SOSIAL DAN BAB XX
KEBUDAYAAN
(8)
PANGKAS PAJAK BUKU
UNTUK GAIRAHKAN MINAT BACA
ALAH satu masalah dalam dunia perbukuan di Indonesia
adalah rendahnya minat baca. Sayangnya, soal minat baca
ini selama ini didudukkan semata sebagai soal hobi yang
sifatnya personal belaka, sehingga kita jadi miskin rekayasa
Syang sifatnya kolektif atau struktural untuk mempengaruhi
hal tersebut. Hal ini saya sampaikan sebagai catatan atas peringatan Hari
Buku Nasional yang jatuh tiap tanggal 17 Mei.
Hambatan struktural terbesar bagi usaha untuk menumbuhkan
minat baca di Indonesia adalah rendahnya daya beli masyarakat. Dibanding
negara-negara berkembang lain, misalnya India, harga buku di Indonesia
relatif mahal. Di India, harga buku sangat terjangkau oleh masyarakat
kebanyakan. Bayangkan, dengan uang kurang dari Rp50 ribu, para pelajar
di India sudah bisa membeli dua eksemplar buku pelajaran. Sementara di
kita, buku-buku pelajaran sekolah menengah saja harganya sudah lebih
dari Rp50 ribu, bahkan bisa ratusan ribu rupiah.
Soal harga buku pelajaran ini memang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Apalagi, sekitar 65 persen pasar buku di Indonesia memang didominasi
buku pelajaran, dengan pangsa pasar mencapai 61 juta eksemplar per
tahun, yang terdiri dari 31 juta eksemplar buku SD, 15 juta eksemplar buku
SMP, 9 juta eksemplar buku SMA, dan 5 juta eksemplar buku perguruan
tinggi. Jadi, kita punya pasar yang cukup besar.
Sayangnya, alih-alih memberi insentif bagi dunia perbukuan,
pemerintah malah lebih memilih memberikan insentif bagi industri hiburan
dan barang-barang mewah, seperti dulu diwakili oleh Peraturan Menteri
Keuangan No. 158/2015. Pemerintah lebih rela menghapus pajak hiburan,
dengan potential loss pajak sekitar Rp900 miliar, daripada mengurangi
pajak buku yang punya multiflier effect strategis.
CATATAN-CATATAN KRITIS 467
DARI SENAYAN