Page 460 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 460

CATATAN
                                                                        KEGAGALAN  BAB XXI
                                                                           JOKOWI



                 atau menyerap tenaga kerja, terbukti tidak terjadi. Dari data yang saya
                 pegang, sektor industri logam dasar justru tumbuh negatif -3,06% pada
                 kuartal I 2017. Industri logam tumbuh di bawah 1% adalah sebuah keanehan
                 di tengah maraknya proyek infrastruktur.
                      Kita jadi bertanya-tanya, lalu dari mana besi dan baja yang digunakan
                 untuk membangun jembatan, jalan tol, dan rel kereta api?
                      Pembangunan  infrastruktur  ini  memang  aneh,  karena  sejak  awal
                 dilakukan tanpa konsep dan strategi, sehingga hasilnya adalah anomali.
                 Bagaimana bisa konsumsi semen secara nasional turun, padahal pemerintah
                 sedang menggalakkan proyek infrastruktur? Dalam periode Januari hingga
                 Juni 2017, konsumsi semen kita turun 1,3%, dari sebelumnya 29,4 juta ton,
                 turun menjadi 28,9 juta ton. Padahal anggaran infrastruktur dalam RAPBN
                 2018 semakin dinaikan.
                      Begitu  juga  dengan  klaim  penciptaan  lapangan  kerja.  Penyerapan
                 tenaga kerja di sektor konstruksi justru anjlok dari 8,21 juta orang (2015)
                 menjadi 7,98 juta orang (2016). Artinya, terjadi pengurangan penyerapan
                 tenaga kerja sebesar 230 ribu orang di sektor konstruksi. Jadi, tenaga kerja
                 mana yang sebenarnya diserap oleh pembangunan infrastruktur?!
                      Catatan lain, meskipun pemerintah mengklaim banyak melakukan
                 pembangunan infrastruktur, namun peringkat logistik Indonesia selama
                 pemerintahan Jokowi justru terus mengalami penurunan. Menurut data
                 World Bank, pada 2013 Indonesia menempati peringkat 53, namun pada
                 2016 kita hanya menempati peringkat 63.

                      Ada banyak hal yang telah dikorbankan untuk membangun
                 infrastruktur. Salah satunya adalah anggaran subsidi, yang selama Presiden
                 Joko Widodo berkuasa anggaran subsidi kita telah dipotong hingga lebih
                 dari 60 persen.
                      Saya ingin mengingatkan kembali pemerintah bahwa salah satu
                 agenda yang mereka cantumkan dalam Nawacita adalah agenda untuk
                 meningkatkan kualitas  hidup  manusia  Indonesia.  Dicabutnya berbagai
                 subsidi untuk rakyat sejak awal pemerintahan ini, terutama subsidi energi,
                 telah memukul daya beli masyarakat. Rendahnya angka inflasi dalam
                 tiga tahun terakhir bukanlah indikator yang menggembirakan, karena di
                 baliknya ada faktor penurunan konsumsi dan daya beli masyarakat.



                                                                  CATATAN-CATATAN KRITIS  487
                                                                         DARI SENAYAN
   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465