Page 471 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 471

Dr. Fadli Zon, M.Sc





                 misalnya, bukanlah ukuran perkembangan ekonomi yang akurat, itu
                 sebabnya  tak pantas didewa-dewakan oleh  teknokrat kita. Sebab,
                 mengingat struktur perekonomian kita, besaran GDP lebih mewakili
                 ‘pertumbuhan ekonomi (orang) asing di Indonesia’, ketimbang mewakili
                 pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri.
                      Pembangunan  infrastruktur  mendesak  segera  dievaluasi.  Selama
                 ini, bertambahnya utang, melambatnya pertumbuhan, berkurangnya
                 anggaran subsidi, oleh pemerintah sering dikaitkan dengan pembangunan
                 infrastruktur. Saya menilai, pembangunan infrastruktur telah dijadikan
                 dalih atas setiap kegagalan pemerintah dalam memenuhi janji-janji serta
                 kewajiban-kewajibannya. Ini tak bagus.
                      Apalagi, saya baca, sampai 31 November 2017, dari 245 proyek proyek
                 strategis nasional yang dicanangkan pemerintah, ternyata baru 4 selesai.
                 Sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi, tahap transaksi, dan
                 87 bahkan masih tahap persiapan. Jadi, meski klaimnya telah dikebut
                 pemerintah, kenyataannya progres proyek-proyek itu sangat lambat.
                      Di sisi lain, klaim tentang pembangunan infrastruktur sebenarnya
                 perlu dipertanyakan kembali. Pemerintah sering menyatakan anggaran
                 infrastruktur meningkat tajam jika dibandingkan periode sebelumnya.
                 Menteri Keuangan, misalnya, pernah merilis pernyataan antara 2015 - 2017
                 alokasi dana pembangunan infrastruktur dalam APBN meningkat 127%
                 dibandingkan dengan 2011-2014.
                      Apakah klaim itu bisa dipertanggungjawabkan? Sebab, saya
                 baca beberapa kajian, pemerintahan Jokowi ternyata telah melakukan
                 perubahan definisi anggaran infrastruktur, sehingga klaim-klaim tadi
                 patut dicurigai tak akurat.

                      Dalam nomenklatur APBN kita, misalnya, hanya ada 11 klasifikasi
                 fungsi belanja Pemerintah Pusat, di mana infrastruktur bukan salah satunya.
                 Sebelum masa pemerintahan Jokowi, yang disebut sebagai anggaran
                 infrastruktur biasanya adalah belanja modal yang dapat dikategorikan
                 belanja fisik. Namun, di era pemerintahan Jokowi, perkiraan alokasi Dana
                 Transfer Umum (DTU) dan sebagian besar alokasi belanja barang juga
                 dianggap sebagai belanja infrastruktur. Angka dua pos ini kebetulan cukup





                498 KATA FADLI
   466   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476