Page 23 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 23
ndustri perbankan harus diakui termasuk phishing, SIM swap, dan
memang industri yang cepat deepfake berbasis AI. Indonesia, dengan
beradaptasi. Di tengah gelombang adopsi digital tinggi tetapi literasi
Ikecerdasan buatan (AI), bank keamanan yang belum merata, menjadi
mulai berlomba mengadopsi teknologi sasaran empuk bagi penjahat.
ini. Bukan sekadar ikut tren atau Saat ini tren serangan siber terus
efisiensi, tetapi demi bertahan hidup di meningkat, dan sektor keuangan memang
tengah persaingan dengan bank digital masih menjadi sasaran empuk. Menurut
dan fintech. Namun modernisasi ini Harry Sofri Putranda, VP Digital
datang dengan harga: risiko-risiko baru Experience & Strategy Bank Mandiri
yang bergerak lebih cepat dan lebih sektor keuangan menempati peringkat
tak terlihat dari yang pernah dihadapi keempat industri yang paling banyak
industri. diserang, dengan serangan meningkat 44
Survei Orientasi Bisnis Perbankan persen sepanjang 2024.
OJK (SBPO) untuk Kuartal keempat “Serangan cyber di 2025 terus
2025 menangkap dinamika ini dengan meningkat, memengaruhi banyak
lugas. Sebagian besar bank mengaku industri secara global. Financial services
telah menggunakan AI dalam proses berada di peringkat keempat sebagai
bisnis mereka. Mulai dari chatbot, credit sektor yang paling banyak diserang,”
scoring, deteksi transaksi mencurigakan, ungkap Harry.
hingga automasi dokumen. Dia menegaskan, insiden besar
Bagi industri yang selama ini sangat seperti ransomware pada vendor DBS Alfons Tanujaya, Pengamat
mengandalkan kepercayaan publik, atau peretasan RDN senilai Rp70 miliar Keamanan Siber
otomatisasi ini menyimpan paradoks. beberapa waktu lalu, menunjukkan
Nantinya, jika semakin sedikit tangan bahwa ancaman nyata bukan sekadar Kolaborasi dengan
manusia, semakin besar ketergantungan angka statistik, tetapi berdampak
pada teknologi. Dan semakin otomatis langsung pada ekosistem bisnis dan regulator menjadi
sebuah sistem, semakin besar risikonya kepercayaan nasabah. kunci. Pendekatan
ketika ia gagal. Maka dari itu, bank harus berpikir
Perbankan di Indonesia jelas lebih jauh dari sekadar proteksi biasa. ini digabung
termasuk yang menghadapi dilema ini. Keamanan digital kini menjadi fondasi dengan strategi
Laporan-laporan internasional, dari bisnis, reputasi, dan kepercayaan publik.
BIS hingga McKinsey, memperingatkan Alfons menekankan, “Bank harus preventif berupa
bahwa “AI-driven banking” menciptakan mampu menaungi semua level user. Jadi literasi digital dan
risiko yang tak kasat mata yaitu systemic harus menyesuaikan ke level pengguna
fragility. Sistem yang sangat efisien terlemah.” Di tengah serangan yang literasi finansial,
sering kali sangat rapuh. semakin kompleks, adaptasi dan inovasi serta kuratif
Alfons Tanujaya, pengamat sistem keamanan bukan lagi opsional,
keamanan siber, dalam sesi panelis melainkan kebutuhan kritis. melalui penguatan
di acara Indonesia Risk Management Kolaborasi dengan regulator menjadi KYC dan sanksi
Outlook (IRMO) 2026 menegaskan, bagian penting strategi pertahanan. hukum bagi pelaku
“Internet merevolusi bisnis. Siapapun OJK telah menyiapkan IASC, pelaporan
bisa mengakses. Bisa disadap.” Revolusi rekening ilegal, dan nomor telepon kejahatan.
ini terjadi tanpa jeda, dan bank harus mencurigakan. Pendekatan preventif
menyesuaikan sistem keamanan dengan melalui literasi digital dan analisis
level pengguna terlemah. tren digabung dengan kuratif, seperti
Sektor perbankan jelas menjadi pemblokiran rekening hingga sanksi
medan tempur utama karena nilai hukum, membentuk sistem keamanan
ekonomi yang tinggi dan volume yang lebih komprehensif.
transaksi digital yang masif. Ancaman
bukan lagi sebatas virus atau malware AI : Senjata dan Ancaman
sederhana, tetapi serangan terstruktur, Kecerdasan buatan kini
www.stabilitas.id Edisi 219 / 2025 / Th.XXI 23

