Page 33 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 33

Latar Belakang                                      Grafik 1. Pergerakan BI Rate Q1 2023 - Q2 2025
            Pada pertengahan September 2025, Presiden Republik
          Indonesia melalui Kementerian Keuangan menggelontorkan dana
          sebesar 200 triliun kepada bank Himbara sebagai amunisi segar
          dalam mempercepat pergerakan perbankan pada sektor kredit.
          Tujuan dari kebijakan ini tidak lain sebagai tenaga ekstra bagi
          sektor riil yang bergerak lamban.
            Penempatan dana pemerintah di bank Himbara bukanlah hal
          baru. Skema serupa pernah dilakukan di masa pandemi COVID­19
          melalui PMK 70/2020. Bedanya, kini jumlahnya jauh lebih besar:
          200 triliun rupiah. Pemerintah mensyaratkan dana tersebut
          digunakan hanya untuk kredit, bukan parkir di obligasi atau
          instrumen lain.
            Di sisi lain, kebijakan tersebut hadir beriringan dengan
          langkah Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan ke angka
          4,75 persen, terendah sejak awal 2024. Dengan BI rate lebih   Grafik 2. Perbandingan BI Rate & SBDK Q1
          rendah, biaya dana antar bank menurun, memberi peluang bank   2023 - Q2 2025
          menurunkan suku bunga kredit.
            Namun, di balik angka triliunan dan jargon stimulus,
          pertanyaan yang lebih mendasar muncul: apakah kombinasi dana
          segar dari pemerintah dan suku bunga rendah dari BI benar­benar
          akan mengalir ke dunia usaha? Ataukah dana ini hanya akan
          berputar di neraca bank, tanpa banyak menggerakkan lapangan
          kerja maupun investasi baru?
            Penurunan suku kebijakan menekan margin bunga bersih;
          bank bisa menahan penurunan suku kredit untuk menjaga
          profitabilitas, modal, dan kemampuan pemberian pinjaman. Bila
          margin bank terlalu tertekan, bank malah menahan kredit. (Bank
          for International Settlements, 2017).
            Secara teori, keduanya saling melengkapi: pemerintah
          menyuplai dana murah, BI menurunkan Cost of Fund. Kombinasi   Sumber: OJK (data diolah)
          itu diharapkan mempercepat transmisi kebijakan ke sektor riil.
                                                              persen secara YoY di kuartal 2­2025. Peningkatan ini dikontribusi
          Kondisi dan Kinerja Perbankan                       besar oleh peningkatan total kredit sebesar 36 triliun rupiah atau
            Sejak kuartal 2­2024 hingga kuartal 2­2025, BI rate telah   meningkat 2,94 persen dari kuartal sebelumnya serta Cost of Fund
          mengalami penurunan sebesar 75 basis poin. Di kuartal 2­2024,   yang masih terjaga di angka 1,19 persen. Bank BTN mencatatkan
          BI rate berada di angka 6,25 persen, turun 25 basis poin menjadi   Cost of Fund tertinggi di Q2­2025 sebesar 1,52 persen, dikontribusi
          6 persen hingga kuartal 4­2024. Lalu di kuartal 1­2025 kembali   oleh total dana yang masih didominasi oleh deposito sebesar
          mengalami penurunan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen   51 persen atau 206 triliun rupiah. Bank masih mempertahankan
          dan mengalami penurunan lagi di kuartal 2­2025 menjadi 5,50   margin bunga bersih (NIM) demi menjaga profitabilitas, sekaligus
          persen. Pada kuartal 3­2025, BI rate mengalami penurunan   menimbang risiko kredit bermasalah (NPL) yang bisa meningkat
          sebanyak 3 kali yaitu pada bulan Juli menjadi 5,25 persen, bulan   jika penyaluran terlalu agresif. Meskipun sudah ada pelonggaran
          Agustus menjadi 5 persen, hingga kini pada September 2025,   likuiditas dan kebijakan moneter, bank masih perlu hati­hati
          Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga menjadi 4,75   dalam menyalurkan kredit dan menyadari bahwa permintaan
          persen. Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa suku bunga kredit   kredit dari pelaku usaha masih lemah (indonesia.go.id, 2025).
          perbankan lebih besar 1,4­1,8 kali dari suku bunga acuan. Meski   Dari grafik diatas, dapat dilihat bahwa rasio Non-Performing
          BI telah memotong suku bunga acuan, bank tetap menjaga   Loan (NPL) tertinggi berada pada bank BRI dan BTN. Seiring
          biaya dana (Cost of Fund) dan suku bunga kredit agar margin tak   dengan pertumbuhan total kredit yang besar, rasio Non-
          terkikis.                                           Performing Loan bank BRI juga kian meningkat menjadi 3,23
            Berdasarkan performa perbankan di kuartal 2­2025, bank BRI   persen dari 3,14 persen pada kuartal pertama 2025. Begitupun
          menjadi bank yang memiliki Net Interest Margin terbesar di antara   dengan bank BTN, walaupun ekspansi penyaluran kredit pada
          bank himbara lainnya dengan nilai 7,8 persen, meningkat 0,16   kuartal kedua 2025 meningkat 2,31 persen dari kuartal pertama


                                                                              www.stabilitas.id   Edisi 219 / 2025 / Th.XXI 33
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38