Page 36 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 36
Menerawang Ekonomi
Indonesia 2026
Oleh Lana Soelistianingsih, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia
enghujung 2025 tiga sumber tekanan inflasi terbesar. Pertama,
yang sudah di pelebaran yang cukup besar anggaran Program
depan mata, Makan Bergizi Gratis (MBG)—melompat dari Rp71
Pmembawa kita triliun menjadi Rp353 triliun—yang berpotensi
pada sebuah jeda reflektif menciptakan lonjakan permintaan pangan. Kedua,
untuk menimbang kenaikan upah minimum provinsi. Ketiga, potensi
arah ekonomi tahun depresiasi rupiah akibat ekspor yang melemah
mendatang. Tahun ini dan impor yang meningkat. Dalam kombinasi yang
meninggalkan jejak tidak ideal ini, Bank Indonesia (BI) menghadapi
yang tidak sedikit—dari keputusan dilematis terhadap suku bunganya. BI
dinamika geopolitik bisa menaikkan kembali suku bunga BI ratenya
hingga guncangan untuk menahan inflasi dan menjaga nilai tukar
kebijakan ekonomi yang diambil oleh Presiden rupiah, namun kenaikan ini mestinya terbatas
Amerika Serikat Trump melalui kebijakan tarif karena di sisi lain BI juga perlu untuk mendorong
impornya. Pada 2 April lalu, Presiden Donald pertumbuhan kredit sebagai motor pertumbuhan
Trump mengumumkan besaran tarif baru dari AS ekonomi. Volatilitas suku bunga ini menjadi salah
terhadap barang impor dari semua mitra dagang ke satu risiko kebijakan moneter di tahun 2026.
AS, yang disebut sebagai Liberation Day. Tantangan ekonomi Indonesia juga bertambah
Kendati sudah mulai banyak negara yang dengan risiko tarif impor. Indonesia menjadi
melakukan kesepakatan tarif dengan AS dan efektif sasaran pasar baru khususnya bagi barang-barang
per 2 Agustus 2025 lalu, namun isu tarif ini belum eks ekspor AS yang dialihkan ke pasar Indonesia.
selesai. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana Tiongkok sebagai negara eksportir terbesar ke
dampak tarif tersebut terhadap inflasi di AS. Hal pasar AS mulai merasakan dampaknya. Ekspor
ini bisa menjadi risiko utama global yang berlanjut Tiongkok ke AS turun 33 persen secara tahunan.
di tahun 2026. Kekawatiran ini dikonfirmasi Namun karena Tiongkok cepat melakukan
dengan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS mitigasi dan mengalihkan sebagian barang-barang
(Fed Funda Rate- FFR)) yang belum turun secara ekspornya ke pasar Asia, alhasil secara keseluruhan
agresif. ekspor Tiongkok pada Agustus lalu tetap naik 4,4
Jika inflasi di AS kembali tinggi, maka risiko persen YoY.
stagflasi kembali akan datang. Dalam skenario itu, Di satu sisi konsumen Indonesia diuntungkan
The Fed mempertahankan di level sekarang atau dengan strategi pengalihan pasar ekspor ini karena
bahkan menaikkan suku bunganya. Harga obligasi semakin banyaknya variasi barang yang ada di
AS akan tergerus, dollar AS melemah, dan harga pasar, dan bisa menekan harga. Namun di sisi lain,
emas masih akan tinggi sebagai bagian dari lindung kondisi ini membuat tekanan terhadap manufaktur
nilai yang alamiah ketika terjadi inflasi. domestik khususnya yang menghasilkan barang
Sementara itu, di Indonesia, risiko substitusi dari produk Tiongkok tersebut.
inflasi juga akan mempengaruhi lanskap ekonomi Persaingan menjadi semakin ketat dan marjin
2026. Potensi inflasi ini akan ditentukan oleh keuntungan turun, bahkan bisa membuat
36 Edisi 219 / 2025 / Th.XXI www.stabilitas.id

