Page 34 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 34

Kemang
                  From


          Grafik 3. CoF, NPL & NIM Q2 2025                    Mandiri dan BTN selalu memiliki likuiditas yang paling ketat di
                                                              antara bank pelat merah lainnya.

                                                              Tantangan dan Peluang
                                                                 Dalam pernyataan pers di Kementerian Koordinator
                                                              Perekonomian pada Jumat (12/9), Menkeu merinci alokasi dana
                                                              tersebut. Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing­masing menerima
                                                              Rp55 triliun, sementara BTN mendapatkan Rp25 triliun dan BSI
                                                              Rp10 triliun. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 2025)
                                                                 Secara nasional, kredit yang disalurkan oleh perbankan pada
                                                              Agustus 2025 tumbuh lebih tinggi. Tercatat pada Agustus 2025
                                                              penyaluran kredit sebesar Rp7.966,1 triliun, atau tumbuh 7 persen
                                                              YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya
                                                              sebesar 6,7 persen YoY. Sementara, penyaluran kredit UMKM
                                                              tumbuh 1,3 persen YoY di Agustus 2025 menjadi Rp1.494,5 triliun,
          Sumber: Laporan Publikasi Bank (data diolah)
                                                              melambat dari 1,8 persen pada bulan sebelumnya (Infobanknews.
          Grafik 4. LDR Q1 2023 - Q2 2025                     com, 2025).
                                                                 Penyaluran dana Rp200 triliun diharapkan menjadi stimulus
                                                              perekonomian dan diharapkan dana tersebut disalurkan ke sektor
                                                              kredit produktif guna mempercepat pertumbuhan ekonomi
                                                              inklusif dan mendukung agenda pembangunan jangka panjang.
                                                                 Dari sisi perbankan, hal ini merupakan tantangan yang
                                                              sangat besar karena sebagian besar penyaluran kredit masih
                                                              didominasi pada sektor konsumtif. Dari grafik diatas, dapat dilihat
                                                              bahwa hanya BRI yang memiliki proporsi kredit yang hampir
                                                              seimbang antara produktif dan konsumtif yang masing­masing
                                                              53 persen dan 47 persen. Sementara untuk 4 bank lainnya, Masih
                                                              didominasi oleh kredit produktif di angka 76­98 persen. Dengan
                                                              adanya instruksi penyaluran dana kepada pembiayaan kredit
                                                              produktif tersebut, dikhawatirkan penyerapan penyaluran kredit
                                                              dari dana yang diberikan oleh pemerintah tidak optimal.
          Sumber: Laporan Publikasi Bank (data diolah)           Menyuntikkan dana Rp200 triliun ke perbankan memang
          2025, namun rasio Non-Performing Loan juga kian meningkat   terdengar seperti langkah besar. Namun, realitas di lapangan
          sebesar 0,2 persen dari kuartal sebelumnya. Hal ini tentu menjadi   sering kali lebih rumit dari sekadar angka. Tantangan pertama
          perhatian bagi perbankan mengingat pentingnya menjaga rasio   adalah memastikan dana tersebut benar­benar mengalir ke
          NPL di tengah penyaluran kredit yang terus diberikan guna   sektor produktif. Ada risiko sebagian bank memilih jalur aman
          memberikan profitabilitas yang optimal.             dengan menaruh dana pada instrumen pasar uang atau obligasi
            Dari sisi likuiditas, dapat dilihat dari 5 bank diatas, rata­rata   pemerintah ketimbang menyalurkan kredit ke dunia usaha
          memiliki likuiditas di angka 62 persen­92 persen. Adapun bank   yang penuh risiko. Pemerintah sudah mengantisipasi dengan
          yang memiliki likuiditas yang cukup ketat yaitu bank Mandiri dan   aturan ketat, dimana dana hanya boleh digunakan untuk kredit,
          BTN di angka 91 persen dan 92 persen. Secara historis, walaupun   dengan laporan rutin ke Kementerian Keuangan. Tetapi, kontrol
          Bank Mandiri memiliki likuiditas yang cukup ketat saat ini, namun   di lapangan selalu menjadi ujian tersendiri yang perlu menjadi
          angka ini sudah mengalami penurunan dari kuartal pertama   perhatian.
          2025 sebesar 3 persen. Terbukti dengan peningkatan total dana   Tantangan lain adalah perilaku perbankan itu sendiri.
          yang dimiliki sebesar 76 triliun rupiah atau sebesar 5,50 persen   Setelah beberapa tahun melewati masa ketidakpastian global,
          dari kuartal pertama 2025 yang didominasi oleh peningkatan   bank cenderung lebih berhati­hati. Mereka menimbang kualitas
          giro menjadi Rp615 triliun dari 533 triliun dari kuartal pertama   kredit dan menjaga rasio non-performing loan (NPL) tetap
          2025. Hal serupa dilakukan oleh bank BTN, dimana pada kuartal   rendah. Artinya, meskipun likuiditas longgar, bank bisa saja
          kedua 2025 tingkat likuiditas menurun sebesar 2 persen dari   menahan penyaluran bila merasa risiko gagal bayar tinggi. Di
          kuartal kuartal pertama 2025 dengan meningkatkan total dana   sisi permintaan, dunia usaha juga tak kalah hati­hati. Banyak
          yang dimiliki sebesar Rp21 triliun  atau 5,64 persen. Jika ditarik   perusahaan masih dalam fase konsolidasi pasca­kenaikan
          kebelakang, sejak tahun 2023 hingga kuartal kedua 2025, Bank   biaya produksi dan tekanan global. UMKM, yang seharusnya


         34   Edisi 219 / 2025 / Th.XXI    www.stabilitas.id
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39