Page 68 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 68
ditopang oleh pertumbuhan laba bersih
emiten dan likuiditas pasar yang tetap
longgar. Sektor-sektor yang diperkirakan
menjadi penggerak utama meliputi
keuangan, komoditas strategis seperti
emas dan tembaga, alat berat, ritel dan
konsumer, kesehatan, serta teknologi.
Optimisme ini juga diamini oleh
Bursa Efek Indonesia. Direktur Utama
KESEIMBANGAN BEI Inarno Djajadi menilai sinyal
ANTARA MENAHAN fleksibilitas kebijakan BI memberi
SUKU BUNGA DAN keyakinan bagi investor, baik domestik
maupun asing. “Dengan stabilitas
TETAP MEMBUKA fundamental pasar saham dan kurs yang
RUANG PENURUNAN terjaga, BEI mampu menarik kembali
arus modal asing, sehingga memperkuat
MERUPAKAN SINYAL likuiditas dan volume perdagangan,”
POSITIF BAGI PASAR jelasnya.
Bagi sektor perbankan, kebijakan
DAN KORPORASI. INI BI sepanjang 2025 memberikan ruang
MENUNJUKKAN BI bernapas. Penurunan suku bunga
menekan biaya dana dan membuka
Bhima Yudhistira, TIDAK HANYA REAKTIF, peluang ekspansi kredit. Namun,
Direktur Celios TETAPI ANTISIPATIF tantangan baru muncul: menjaga kualitas
aset dan net interest margin (NIM) di
TERHADAP RISIKO tengah persaingan likuiditas yang ketat.
David Sumual, Chief Economist
EKSTERNAL DAN BCA, menilai likuiditas valas yang
INTERNAL. memadai dan kebijakan BI yang
terukur memungkinkan bank melayani
kebutuhan korporasi tanpa menimbulkan
tekanan berlebihan pada rupiah. “Hal ini
juga memberikan fleksibilitas tambahan
untuk mendukung pembiayaan sektor
riil,” ujarnya.
Meski demikian, bank tetap dituntut
untuk mengurangi ketergantungan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhati-hati dalam manajemen risiko
intervensi langsung. berpotensi menguat signifikan pada kredit, terutama di sektor-sektor yang
Hingga akhir 2025, volume transaksi 2026. Dalam skenario dasar, IHSG sensitif terhadap siklus ekonomi dan
DNDF dan instrumen lindung nilai diperkirakan dapat menembus level suku bunga.
lainnya menunjukkan tren meningkat, 9.050 pada akhir 2026, dan bahkan
mencerminkan kesiapan pasar domestik mencapai 9.350 dalam skenario bullish. Tantangan Eksternal
dalam mengelola risiko nilai tukar. Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Meski begitu, ketidakpastian
Likuiditas valas perbankan pun relatif Oki Ramadhana, menilai valuasi saham global tetap menjadi faktor utama bagi
memadai, menopang kebutuhan domestik masih atraktif. “IHSG memiliki keputusan BI. Ekspektasi pelonggaran
korporasi tanpa menimbulkan tekanan potensi kenaikan lebih lanjut. Peluang suku bunga oleh The Fed dan bank
besar pada rupiah. mencapai level 9.000 tergolong realistis, sentral lain bisa memberi ruang bagi BI
didukung oleh peran kuat investor ritel untuk menurunkan suku bunga. Namun
Respons Pasar Modal dan nilai transaksi yang tinggi,” ujarnya. langkah tersebut harus diperhitungkan
Pasar modal merespons kebijakan Adrian Joezer, Head of Equity agar tidak menimbulkan tekanan
BI dengan optimisme yang relatif stabil. Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, terhadap rupiah atau capital outflow.
Mandiri Sekuritas memproyeksikan menambahkan bahwa proyeksi tersebut Selain itu, risiko perlambatan
68 Edisi 220 / 2026 / Th.XXI www.stabilitas.id

