Page 64 - Stabilitas Edisi 220 Tahun 2026
P. 64
pergeseran menuju kendali negara
yang lebih langsung atas arus devisa.
Dalam catatannya, ia memperingatkan
bahwa langkah ini berpotensi memicu
kecemasan investor, terutama di tengah
kepemilikan asing atas obligasi domestik
yang masih rendah secara historis.
Kekhawatiran serupa disuarakan
ekonom perbankan. David Sumual,
Chief Economist Bank Central Asia
(BCA), menilai pembatasan penempatan
dana eksportir berisiko mengganggu
mekanisme pasar. “Kalau fleksibilitas
eksportir untuk memilih bank dibatasi,
biaya pendanaan bisa naik dan
pembiayaan perdagangan terganggu.
Investor bisa melihat ini sebagai
kebijakan yang kurang ramah pasar,”
ujarnya.
Isu ini menjadi krusial karena
kepercayaan adalah mata uang utama
dalam sistem keuangan terbuka.
Sekalipun tidak melarang arus keluar
modal, kewajiban penempatan devisa
dalam periode panjang menciptakan
persepsi bahwa negara mulai mengatur
di mana dan berapa lama dana asing
boleh berada.
Bank BUMN Pemenang
Dari sisi distribusi dampak,
kebijakan ini dinilai tidak netral. Bank-
bank BUMN—Mandiri, BRI, BTN, dan
BNI—diproyeksikan menjadi penerima
utama limpahan dana valas berbiaya
murah. Pemerintah bahkan menyiapkan
BI terus instrumen tambahan seperti obligasi
mengoptimalkan pun mendekati 80 persen, menandakan valas dengan insentif pajak sebagai
Intervensi spot, devisa tersebut benar-benar digunakan alternatif penempatan DHE.
transaksi Domestic untuk kebutuhan domestik. Namun limpahan likuiditas ini
Non-Deliverable Dari perspektif stabilitas makro, bukan tanpa risiko. Sejumlah analis
Forward (DNDF), serta hasilnya terlihat menggembirakan. memperingatkan bahwa dana valas
penguatan pasar uang Cadangan devisa Indonesia bertahan jangka panjang berbiaya rendah bisa
dan valas melalui PBI kuat di kisaran 138 miliar dollar AS per menekan margin bunga bersih bank
Nomor 6 Tahun 2024. November 2025, sementara volatilitas BUMN, terutama jika tidak diimbangi
rupiah relatif terkendali meski dollar AS penyaluran kredit valas yang produktif.
menguat secara global. Sebaliknya, bank swasta nasional
Namun yang menggelisahkan pasar dan bank asing menghadapi potensi
bukanlah tujuan kebijakan, melainkan pengetatan likuiditas dolar. Dalam
caranya. Analis dari UOB Kay Hian, jangka panjang, fragmentasi ini
Suryaputra Wijaksana, menyebut berisiko mengganggu efisiensi pasar
kebijakan penempatan DHE sebagai valas domestik dan menciptakan
64 Edisi 220 / 2026 / Th.XXI www.stabilitas.id

