Page 430 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 430

422    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                  Pertama, kualifikasi moral, artinya bahwa dalam penentuan kepentingan umum dibu-
             tuhkan orang-orang yang secara jelas mempunyai sikap, perilaku dan komitmen terhadap
             moral,  menjaga  kejujuran,  dan  kebenaran  dalam  menentukan  pemanfaatan  kepentingan
             umum  tersebut  sehingga  tidak  ada  lagi  kepentingan  umum  sekadar  kedok  untuk  mewu-

             judkan kepentingan pribadi.
                  Kedua,  kualifikasi  profesional,  artinya  bahwa  dalam  penentuan  kepentingan  umum
             dibutuhkan orang-orang yang benar-benar mengerti segala kompleksitas persoalan hukum

             tanah, baik hukum positif maupun hukum yang hidup di masyarakat. Persoalan sengketa
             tanah yang akhir-akhir ini justru semakin menggejala dan menimbulkan korban manusia,
             terjadi  diakibatkan  oleh  kecerobohan  dan  ketidaktahuan  aparat  tentang  hukum  tanah.
             Misalnya, kasus pembunuhan masyarakat transmigran oleh penduduk adat setempat, hal ini

             terjadi akibat tidak tahu arti kepemilikan hukum adat yang hidup di masyarakat setempat.

             E. Perubahan Konsep Kepentingan Umum dalam Pengambilan Tanah
                  Adanya kesenjangan antara jumlah tanah yang terbatas dengan kepentingan manusia di

             atas tanah tersebut menimbulkan berbagai benturan dan permasalahan pertanahan. Penga-
             daan tanah untuk kepentingan umum, sebagai salah satu dari dua jenis pengadaan tanah,
             yang  lainnya  pengadaan  tanah  untuk  swasta/perusahaan,  sangat  menarik  untuk  dikritisi.

             Mengingat begitu banyaknya pengadaan tanah yang berkedok untuk kepentingan umum,
             namun tenyata dalam praktiknya sama sekali  bukan untuk kepentingan umum. Keadaan
             yang  demikian  itu  jelas-jelas  bertentangan  dengan  filosofi  hukum,  yakni  aspek  kepastian
             hukum dan keadilan yang seharusnya diberikan kepada segenap lapisan masyarakat tanpa

             pandang  bulu.  Penyebab  terjadinya  penyimpangan  yang  demikian  itu  terjadi  setidaknya
             karena dua kemungkinan, yakni karena aspek peraturan perundang-undangan atau aspek
             penyimpangan dan salah penafsiran di lapangan.
                  Menurut Maria S.W. Soemardjono, konsep kepentingan umum selain harus memenuhi

             "peruntukannya" juga harus dapat dirasakan kemanfaatannya" (socially profitable atau for
             public use, atau actual use by the public). Agar unsur kemanfaatan ini dapat dipenuhi, artinya
             dapat dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan dan/atau secara langsung, untuk penen-

                                                                           30
             tuan  suatu  kegiatan  seyogianya  melalui  penelitian  terpadu.  Oloan  Sitorus  juga  menam-
             bahkan bahwa selain "peruntukannya" dan "kemanfaatannya", maka harus ada "siapakah"
             yang dapat melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum dan "sifat" dari pem-
             bangunan  kepentingan  umum  tersebut,  hal  tersebut  tetap  memberikan  kemungkinan

                                                       31
             dimanipulasikannya kepentingan umum.

                30  Maria S.W. Soemardjono, "Telaah Konseptual terhadap Beberapa Aspek Hak Milik,Sebuah Catatan
             untuk Makalah Chadijdjah Dalimunte, Konsep Akademis Hak MilikAtas Tanah Menurut UUPA, Makalah
             dalam Seminar Nasional Hukum Agraria III Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara-Badan Pertanahan
             Nasional, Medan 19-20 September, 1990, hlm. 13.
                31  Oloan Sitorus dan Dayat Limbong, Op. cit.,hlm. 7.
   425   426   427   428   429   430   431   432   433   434   435