Page 426 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 426

418    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             man, dalam masyarakat yang sederhana (pra-industri) hak milik mempunyai fungsi meme-
             nuhi kebutuhan hidupnya seseorang sesuai dengan pekerjaannya dalam rangka pencarian
                     15
             nafkah.
                  Semula dalam konsep kepentingan umum yang dianut hukum Barat, hak perorangan itu

             dianggap mutlak. Kemudian kemutlakannya dikurangi sedikit-demi sedikit dengan berkem-
                                                                      16
             bangnya  ajaran  yang  berpangkal  pada  individualisme.  Sifat  individualisme,  yang  masih
             merupakan ciri menonjol dari masyarakat Eropa, berbeda dengan komunisme/ komunalisme
                                                                                                        17
             primitif yang menyerap/meleburkan seluruh hak individu ke dalam kekuasaan masyarakat.
             Menurut pikiran dasar orang Barat, pada subjek hukum tertentu terdapat  kekuasaan umum
                                                                    18
             atas tanah yang mengandung benih-benih hak lainnya.
                  Di Indonesia, pengertian kepentingan umum diatur di dalam Undang-Undang Nomor 2

             Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang
             mana kepentingan umum dimengerti sebagai kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat
             yang  harus  diwujudkan  oleh  pemerintah  dan  digunakan  sebesar-besarnya  untuk  kemak-
                            19
             muran rakyat.  Kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan sebagai kepentingan umum dan akan
             dilaksanakan  oleh  pemerintah  dan  pemerintah  daerah  yang  dijabarkan  ke  dalam  18  jenis
             kegiatan.
                  Pengertian  kepentingan  umum  yang  didefinisikan  secara  tidak  memadai  itu  pada

             gilirannya menyebabkan penjabaran daftar kegiatan kepentingan umum menjadi tidak jelas.
             Dari  18  daftar  kepentingan  umum,  sebahagian  kegiatan  menimbulkan  suatu  tanda  tanya
             besar  apakah  layak  disebut  sebagai  kepentingan  umum.  Rumah  sakit  umum  dan  pusat
             kesihatan masyarakat banyak didirikan hanya untuk konsumsi kalangan tertentu yang sangat

             terbatas. Secara eksplisit tentu sahaja tidak dinyatakan, akan tetapi biaya yang sangat mahal
             adalah indikasi yang sangat jelas pembuktiannya.
                  Makna  kepentingan  umum  sebagai  kepentingan  sebahagian  besar  masyarakat  dapat
             diartikan sebaliknya bahwa kepentingan sebahagian kecil masyarakat bukanlah kepentingan

             umum. Besar atau kecil suatu masyarakat adalah tetap sebagai sebahagian dari suatu negara
             dan tidak dapat dipisahkan apalagi bersangkutan dengan kegiatan pembangunan yang pada
             hakikatnya adalah untuk menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan.

                  Sementara itu ukuran kuantitatif masyarakat itu menimbulkan satu pertanyaan dalam
             skala apakah mayarakat itu? Apakah berskala nasional, provinsi atau negeri, kabupaten atau
             kota (bandar) atau ukuran-ukuran lain? Bukankah ukuran-ukuran tersebut bersifat relatif



                15  Wolfgang Friedman, I'am  in Changing Society, Penguin Books, England, 1972, hlm.93
                16  Oloan Sitorus dan Normadyati, Hak Atas Tanah dan Kondominium suatu Tinjauan Hukum, Dasamedia
             Utama, Jakarta,1994, hlm. 27.
                17  Max Gluckman, dalam Iman Sudiyat, Beberapa Masalah Penguasaan Tanah di Berbagai Masyarakat
             Sedang Berkembang, Edisi Pertama, Cetakan Pertama. Badan Pembinaan Hukum  Nasional Departemen
             Kehakiman, 1982, hlm. 41.
                18  A. Pitlo, "Het Systeem van het Nederlands Privaatrecht", dalam Iman Sudiyat, ibid, 1982, hlm. 43.
                19  Undang-Undang Nomor 2 tahun 2012.
   421   422   423   424   425   426   427   428   429   430   431